Bos Nvidia Bilang, Biaya Operasional AI Lebih Mahal daripada Membayar Gaji Karyawan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 5 Mei 2026 | 13:40 WIB
Ilustrasi: Biaya operasional AI ternyata bisa jauh lebih mahal daripada membayar gaji karyawan yang mereka gantikan. (Freepik)
Ilustrasi: Biaya operasional AI ternyata bisa jauh lebih mahal daripada membayar gaji karyawan yang mereka gantikan. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Banyak perusahaan teknologi yang dikabarkan melakukan PHK besar-besaran demi beralih ke AI. Padahal, biaya operasional AI ternyata bisa jauh lebih mahal daripada membayar gaji karyawan yang mereka gantikan.

Beberapa petinggi perusahaan teknologi, termasuk dari Nvidia dan Uber, mulai menyadari bahwa harga "token" AI sering kali lebih besar daripada biaya menggaji karyawan. Bryan Catanzaro, VP Applied Deep Learning di Nvidia, mengungkapkan hal ini secara blak-blakan. 

"Bagi tim saya, biaya komputasi jauh melampaui biaya gaji karyawan," ujarnya.

Baca Juga: Pengadilan Tiongkok Tegaskan Perusahaan Tidak Boleh Memecat Karyawan Hanya Karena AI Lebih Murah

Pernyataan ini cukup menarik, mengingat Nvidia adalah perusahaan yang justru menjual tools untuk menjalankan teknologi AI tersebut.

Tagihan membengkak

Bagi pengguna standar, biaya asisten AI mungkin hanya sekitar $20 hingga $200 per bulan. Namun, bagi perusahaan yang menggunakan AI untuk coding atau otomatisasi tugas berat secara terus-menerus, biayanya bisa membengkak.

Ambil contoh Swan AI. Mereka sempat membagikan tagihan dari Anthropic sebesar $113.000 (sekitar Rp1,8 miliar) hanya untuk tim yang berisi empat orang.

Kalau dihitung kasar, itu berarti sekitar $28.000 (sekitar Rp488 juta) per orang dalam sebulan. Bayangkan, apa nggak boncos tuh namanya?

CTO Uber, Praveen Naga, juga merasakan hal yang sama. Ia harus meninjau ulang rencananya karena pengeluaran yang tidak terduga. 

Baca Juga: 'Ganteng Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral' Terinspirasi dari Lomba Binaraga di Majalengka

"Anggaran yang saya kira saya butuhkan ternyata sudah ludes sama sekali," tukas Naga.

Mengapa perusahaan malah senang?

Anehnya, menurut Bryan Catanzaro banyak CEO tidak melihat tagihan besar-besaran itu sebagai hal negatif. Buat mereka, biaya tinggi berarti karyawan mereka benar-benar sedang bekerja keras mendorong inovasi dan otomatisasi dalam skala besar.

Di Uber, sekitar 11% pembaruan kode mereka sudah ditulis oleh agen AI. Praveen Naga bahkan punya visi kalau ke depannya, peran software engineer bakal dijalankan oleh agen AI ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: tomshardware.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X