“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.
"Berbagai agenda tersebut telah kami eksekusi dan mulai memberikan dampak positif terhadap fundamental maupun kinerja keuangan BRI,” ujar Hery.
Rangkaian transformasi tersebut tercermin dari total aset BRI yang mencapai Rp2.352 triliun (tumbuh 11,7% yoy), disokong oleh penyaluran kredit yang tumbuh 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income) juga meningkat sebesar 9,9% yoy menjadi Rp80,5 triliun.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat dan pada saat bersamaan memberikan manfaat yang semakin luas bagi perekonomian,” ungkap Hery.
Fundamental kuat dan komitmen pada UMKM
Pertumbuhan profitabilitas BRI berjalan sejajar dengan tingkat efisiensi yang membaik. Cost of Fund (CoF) berhasil ditekan dari 3,0% menjadi 2,4%. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) membaik dari 3,0% menjadi 2,9%, sementara Return on Equity (ROE) naik tajam menjadi 18,8%.
“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” lanjut Hery.
Hingga Triwulan II 2026, nilai kredit yang mengalir khusus ke segmen UMKM menembus Rp1.235,4 triliun (tumbuh 8,6% yoy). BRI memastikan bahwa diversifikasi bisnis ke segmen korporasi maupun konsumer tidak akan menggeser identitas utamanya.
“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat.
"Karena itu, ekspansi bisnis yang kami lakukan akan tetap berpijak pada upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM Indonesia,” kata Hery.
Dukungan BRI pada UMKM diperkuat oleh program pemberdayaan terpadu. Hingga Juni 2026, BRI telah membina lebih dari 5.700 Desa BRILiaN, 44 ribu klaster usaha dalam program Klasterku Hidupku, serta menjangkau 17,3 juta pelaku usaha lewat platform digital LinkUMKM.
Di sisi lain, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada periode Januari–Juni 2026 sukses menyentuh angka Rp103,8 triliun bagi lebih dari 2 juta debitur.
“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan: UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujar Hery.
Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.
Artikel Terkait
Mau Working Holiday ke Australia? Siap-Siap Bayar Visa Lebih Mahal Mulai 2026
TNI Buka Peluang Lebih Besar bagi Suku Dayak Pedalaman untuk Jadi Prajurit
Film 'Ibadah dan Cinta', Ketika Pemuda Agnostik Jatuh Cinta pada Putri Kyai Pemilik Pesantren
Panduan 11 Jenis Sepatu Formal Yang Sesuai Dengan Profesi dan Lingkungan Kerja Bagi First Jobber
Ini Alasan Mengapa Karyawan Muda Saat Ini Cenderung Merahasiakan Gaji dari Orang Tua
Stasiun Karet Ditutup Besok, Ini Pengganti dan Akses untuk Penumpang KRL
11 Langkah Taktis Agar Follow Through Kamu Kepada Klien Bisa Berjalan Dengan Baik