PejuangKantoran.com - Keberadaan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memang membuat manusia risau.
Sebab kemampuan tools AI semacam ChatGPT dikhawatirkan membuat pekerjaan manusia tergantikan. Sampai saat ini saja, sudah banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh AI.
Baca Juga: Siapa Bilang Banyak Karyawan Merasa Terancam dengan Penggunaan AI? Survei Buktikan Sebaliknya!
Namun, sebuah laporan baru menunjukkan bahwa ada ancaman yang jauh lebih besar terhadap berkurangnya jumlah pekerjaan yang tersedia, yang bukan disebabkan oleh AI. Apa itu?
Jawabannya adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, meningkatnya biaya hidup, krisis rantai pasokan, dan pandemi COVID-19.
Faktor-faktor menjadi alasan utama yang menyebabkan hilangnya pekerjaan, menurut laporan Future of Work HSBC tertanggal 18 Juli 2023. Laporan tersebut mengutip data dari World Economic Forum (WEF) yang terbit Mei 2023.
AI justru menciptakan lapangan kerja baru
Menurut survei dari WEF, 50% lebih dari 803 perusahaan yang secara kolektif mewakili 11,3 juta karyawan secara global, percaya bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat akan mengurangi jumlah pekerjaan.
Menariknya, lebih dari 50% perusahaan yang disurvei percaya bahwa teknologi baru—termasuk AI—sebenarnya akan menjadi pencipta lapangan kerja, bukan penghancur.
Kurang sedikit dari setengah dari perusahaan yang disurvei percaya bahwa teknologi AI akan menghasilkan pekerjaan baru.
Baca Juga: 3 Cara Belajar Keterampilan AI untuk Meningkatkan Wawasan dan Peluang Kerja yang Baru
Hasil survei terpisah dari Microsoft yang diterbitkan pada Mei 2023 menunjukkan, mayoritas pekerja cukup nyaman dengan AI yang mengambil alih sebagian dari pekerjaan mereka.
Apalagi untuk tugas-tugas yang mengganggu dan berulang, yang dapat didelegasikan. Meskipun, mereka tetap tidak setuju dengan penggantian total pekerjaan manusia oleh AI.
Namun, tentu saja ada pendapat yang berbeda. Sekitar 25% responden HSBC percaya bahwa AI akan merugikan pekerjaan manusia.
Bahkan, beberapa pekerja sudah termasuk dalam kelompok minoritas yang digantikan oleh teknologi. Hal ini membuat jumlah pekerjaan semakin sedikit dan sulit didapatkan.
Artikel Terkait
Dari 19 Provinsi, Hanya 64,8% Perusahaan yang Menyediakan Ruang Laktasi untuk Karyawan
Masih Kencang di Minggu Kedua, Barbie Diprediksi Bakal Meraup Keuntungan 1 Miliar Dollar
Apakah Cillian Murphy Sudah Menikah? Hm… Kenalan Yuk, dengan Istrinya Selama 20 Tahun Ini
Google Warning: Akun Gmail dan Google Photos Tidak Aktif Akan Dihapus Mulai Desember 2023
Riwayat Pekan ASI Sedunia demi Budaya Menyusui, Bukan yang Lain
Jangan Nonton Sendirian! Suzzanna: Malam Jumat Kliwon Bakal Menghantui Mulai 3 Agustus