Fakta Sang Saka Merah Putih yang Dijahit Fatmawati, Bukan Berasal dari Sprei Warna Putih

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 10 Agustus 2023 | 18:45 WIB
Ayumi Putri Sasaki, pembawa baki Paskibraka menerima duplikat Sang Saka Merah Putih dari Presiden Jokowi saat Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2022. (BPMI Setpres/Muchlis Jr.)
Ayumi Putri Sasaki, pembawa baki Paskibraka menerima duplikat Sang Saka Merah Putih dari Presiden Jokowi saat Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 2022. (BPMI Setpres/Muchlis Jr.)

Di Indonesia sendiri, penggunaan warna merah dan putih sudah dipuja dan digunakan sebelum zaman Majapahit, yaitu dijadikan panji kerajaan pada zaman Kediri (1042 – 1222).

Lalu, bukan hanya kerajaan Jawa yang menggunakan warna merah dan putih.

Bendera pertempuran Raja Sisingamangaraja IX dari tanah Batak bergambar pedang kembar berwarna putih dengan latar belakang merah.

Pada Perang Aceh, para prajuritnya menggunakan bendera perang bergambar pedang, bintang dan bulan sabit, matahari, dan beberapa tulisan Alquran berwarna putih dengan latar belakang merah.

Begitu juga dengan bendera kerajaan Bugis Bone di Sulawesi Selatan, panji kerajaan Bali Badung (Puri Pamecutan), dan panji Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa.

Pada awal abad ke-20, merah dan putih dihidupkan kembali oleh para pelajar dan kaum nasionalis sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda.

Baca Juga: Walaupun Film Pesanan Pemerintah, Hanung Bramantyo Tetap Menggarap Just Mom dengan Passion

Bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di Jawa pada 1928 saat masih di bawah pemerintahan Belanda.

Saat ini, merah pada bendera Indonesia melambangkan keberanian dan darah, sedangkan putih melambangkan kesucian dan semangat.

Asal muasal kain yang dijahit menjadi Bendera Merah Putih

Beberapa cerita menyebutkan Bendera Merah Putih yang asli dibuat dari sprei putih dan kain merah dari warung soto pinggir jalan.

Namun, istri Soekarno, Fatmawati, menjahit bendera merah putih pertama dengan menggunakan kain pemberian perwira Jepang.

Menurut buku “Catatan Kecil Bersama Bung Karno” yang dipublikasikan pada 1978, pada Oktober 1944 ketika Fatmawati hamil sembilan bulan, ia diberi kain putih dan merah oleh seorang perwira Jepang.

Perwira itu adalah Chairul Basri, yang menerima kain itu dari Hitoshi Shimizu, Kepala Sendenbu atau Departemen Propaganda.

Baca Juga: Jaga-jaga, Ini Syarat dan Cara Daftar Seleksi CASN 2023 yang Bakal Dibuka September 2023

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Britannica, Edarabia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X