Perusahaannya Sempat Dihargai 40 Miliar Dollar, Kini WeWork Terancam Bangkrut

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 11 Agustus 2023 | 11:19 WIB
WeWork Inc., perusahaan penyedia ruang kerja bersama, terancam bangkrut. (Bloomberg/David Delgado)
WeWork Inc., perusahaan penyedia ruang kerja bersama, terancam bangkrut. (Bloomberg/David Delgado)

Per 30 Juni 2023, perusahaan memiliki $205 juta atau Rp3,1 triliun dalam bentuk kas dan total likuiditas sebesar $680 juta atau Rp10,3 triliun.

Sementara utang jangka panjang WeWork mencapai $2,91 miliar atau Rp44,2 triliun.

Perjalanan WeWork yang sempat jadi perusahaan besar

WeWork pertama kali berusaha untuk go public pada 2019 dengan menerbitkan prospektus awalnya pada Agustus tahun itu.

Dengan keuangan lengkapnya tersedia untuk dilihat semua orang, bisnis ini dikritik habis-habisan karena pengeluaran dan risiko yang berlebihan bersama dengan hubungan kompleks sang pendiri, Adam Neumann, di perusahaan.

IPO tidak pernah berhasil. Pendiri dan CEO SoftBank Masayoshi Son menyebut investasinya di WeWork "bodoh" dan perusahaannya mengambil kendali mayoritas bisnis dalam paket pembiayaan $5 miliar.

Neumann lalu terpaksa mundur.

Pada 2021, WeWork akhirnya menjadi perusahaan publik melalui merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus atau SPAC. Namun, turbulensi terus berlanjut.

WeWork mengatakan pendapatannya tumbuh hanya 3,6% dari tahun ke tahun di kuartal kedua, dan turun 4% di Amerika, di mana mereka mendapatkan 41% dari penjualannya.

Kondisi ekonomi menyebabkan lebih banyak anggota pergi, yang menurunkan pendapatan dan arus kas, menurut WeWork. Bahkan SoftBank membelanjakan lebih sedikit untuk perusahaan ini.

Pada kuartal kedua, perusahaan menyumbang $6 juta atau Rp91,1 miliar dari pendapatan WeWork. Menurut pengarsipan, angka ini turun dari $10 juta atau Rp151,9 juta pada kuartal kedua di 2022.

Faktor kunci apakah WeWork dapat tetap bertahan adalah membatasi belanja modal, meningkatkan pendapatan, dan mencari modal melalui penerbitan utang atau ekuitas.

Baca Juga: Tak Hanya Karyawan yang Rugi, Perusahaan Juga Boncos Jika Terus Melakukan PHK Besar-besaran

Tiga anggota dewan perusahaan sudah mengundurkan diri minggu lalu karena "ketidaksepakatan material mengenai tata kelola Dewan dan arah strategis dan taktis Perusahaan."

Salah satunya adalah Daniel Hurwitz, yang baru menjabat sejak Mei 2023.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: NBCNews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X