Ia mengatakan bahwa saat itu emak-emak blogger tidak ingin menjadi blogger, pembuat konten, atau menjadi influencer (atau YouTuber).
Selama bertahun-tahun, dan bahkan sampai sekarang, banyak orang menganggap "ibu blogger" dengan pandangan yang meremehkan.
“Ada dekade yang solid di mana perempuan menjadi kreatif, bekerja dengan merek, menghasilkan uang karena hubungan autentik yang tanpa lelah kami bangun dengan pemirsa setia kami, sambil harus membuktikan bahwa apa yang kami lakukan sebenarnya adalah sebuah pekerjaan,” jelasnya.
Jill menyimpulkan, sekarang berkat adanya "mommy blogger" di awal era internet, ada industri yang dibangun berdasarkan pengaruh dan nilai, serta kekuatan nyata yang dimiliki.
Bedanya dengan content creators generasi lainnya
Beda generasi, beda pula karakteristiknya. Di antara Gen X dan Gen Z, generasi Milenial berinteraksi dengan internet dengan cara yang sangat berbeda.
Mereka memilih tampilan yang lebih terkurasi dibandingkan dengan kekacauan yang ada di dunia nyata.
Bisa dibilang bahwa cara Gen Z menampilkan kehidupan online mereka merupakan reaksi terhadap kesempurnaan yang dirasakan generasi Milenial.
Taylor berpendapat bahwa bahkan gaya foto yang diposting Gen Z, meskipun terlihat tidak rapi, merupakan hasil setelah dikurasi.
Baca Juga: Profesi yang Paling Banyak Jadi Impian Gen Z alias Generasi TikTok Saat Ini: Influencer!
“Ini seperti, 'Izinkan saya menampilkan estetika yang sangat acak-acakan di TikTok untuk memastikan bahwa saya menjadi viral',” katanya.
Namun, tak peduli apakah estetika tersebut dikurasi atau tidak, tetapi ada satu hal yang pasti. Saat ini, orang-orang menggunakan kepribadian online mereka untuk membahas topik-topik sulit, seperti kesehatan mental dan sisi gelap mengasuh anak, berkat keterbukaan yang dimanfaatkan Gen X menciptakan ruang yang belum pernah ada sebelumnya.
Sekarang, ruang tersebut akan terus diubah oleh Gen Z dan generasi seterusnya. (Elga Windasari)