Choi Siwon Kena Cancel Culture, Mengapa Boikot Massal Tak Bisa Sembarangan Dilakukan?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 23 Oktober 2023 | 20:11 WIB
Choi Siwon terkena cancel culture alias boikot massal akibat terang-terangan mendukung Israel. (Instagram/smtwon)
Choi Siwon terkena cancel culture alias boikot massal akibat terang-terangan mendukung Israel. (Instagram/smtwon)

PejuangKantoran.com - Beberapa tahun belakangan ini, banyak orang terkenal, seperti artis atau bahkan pejabat, terkena cancel culture oleh masyarakat.

Bahkan, baru-baru ini Choi Siwon, salah satu anggota boyband Super Junior, ikut terkena cancel culture oleh sebagian masyarakat Indonesia karena dirinya terang-terangan mendukung Israel.

Sebenarnya, apa itu cancel culture? Ini adalah ungkapan kontemporer pada akhir 2010-an dan awal 2020-an yang digunakan untuk merujuk pada boikot massal saat seseorang dianggap telah bertindak dengan cara yang tidak dapat diterima.

Baca Juga: 4 dari 5 Bos adalah ‘Manajer Kebetulan’ yang Menjadi Pemimpin tanpa Pelatihan dan Pengalaman

Akibatnya, orang tersebut akan dikucilkan, dijauhi, atau kena boikot massal. Mereka terkena cancel culture atau dalam istilah orang sini: budaya pengenyahan.

Dictionary.com, dalam kamus budaya populernya, mendefinisikan cancel culture sebagai menarik atau mengenyahkan dukungan untuk figur publik dan perusahaan setelah melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap tidak pantas atau menyinggung.

Sementara itu, cancel dalam budaya pop diartikan dengan menarik dukungan untuk tokoh masyarakat atau perusahaan usai mereka dianggap melakukan sesuatu yang tidak pantas atau menyinggung.

Bukan hal yang baru terjadi

Budaya pengenyahan seperti ini bukanlah hal yang baru. Dr. Jill McCorkel, seorang profesor sosiologi dan kriminologi di Universitas Villanova, Pennsylvania, AS, mengatakan bahwa akar dari budaya pengenyahan telah ada sepanjang sejarah manusia.

Masyarakat telah menghukum orang karena berperilaku di luar norma sosial selama berabad-abad, dan cancel culture hanyalah variasi lain.

“Budaya pengenyahan adalah perpanjangan atau evolusi kontemporer dari serangkaian proses sosial yang lebih berani, yang dapat kita lihat dalam bentuk pengusiran,” katanya.

Misalnya, saat ada seorang selebritas yang menghina ras atau agama tertentu, maka masyarakat akan melakukan boikot massal dengan cara tidak akan mengikutinya di media sosial atau menikmati karya-karyanya lagi.

Jadi, tujuan dari cancel culture ini adalah untuk menghilangkan pengaruh seseorang karena perilaku dan perkataannya yang tidak selaras dengan norma-norma yang berlaku.

Baca Juga: Trik Berbasa-basi dengan Orang yang Baru Dikenal tanpa Canggung dengan Metode FORD

Disebut memiliki manfaat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: New York Post, Universitas Airlangga

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X