Walaupun masih muda, Attal punya sejarah panjang dalam politik Prancis. Ia bergabung dengan Partai Sosialis ketika berusia 17 tahun, dan diangkat sebagai menteri muda di Kementerian Ekonomi dan Keuangan. Terakhir, ia diangkat menjadi Menteri Pendidikan pada 2023.
Sebagai Menteri Pendidikan, Attal membuat gebrakan dengan melarang penggunaan pakaian abaya di sekolah-sekolah negeri, sehingga membuatnya populer di kalangan konservatif.
Baca Juga: Jangan Lupa, Besok Pendaftaran Beasiswa LPDP 2024 Sudah Dibuka Lho!
“Saya sangat menyadari konteks di mana saya mengambil pekerjaan ini,” kata Attal, yang menurut survey merupakan salah satu politisi paling populer di Prancis dalam beberapa bulan terakhir.
“Terlalu banyak orang Prancis yang meragukan negara kita, meragukan diri mereka sendiri atau masa depan kita. Khususnya kelas menengah, yang bangun setiap pagi untuk berangkat kerja… dan terkadang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup,” belanya.
Makanya ia berjanji untuk mengendalikan nasib rakyat dan membebaskan potensi Prancis.
“Presiden termuda dalam sejarah (Prancis) menunjuk perdana menteri termuda dalam sejarah (Prancis). Saya ingin melihatnya sebagai simbol keberanian,” kata Attal.
Baca Juga: Korea Selatan Bakal Buka Sekolah Menengah Kpop, Khusus Buat Kamu yang Ambisi Jadi Idol Kpop
Meskipun begitu, para pemimpin oposisi Prancis memandang penunjukan Attal sebagai hal yang tidak penting, bahkan kontraproduktif. Masyarakat masih harus melihat hasil kerjanya.
Hal itu akan menjadi tantangan bagi Attal. Perdana menteri mana pun akan mempunyai tugas yang sangat sulit menyatukan semua pihak guna mendorong undang-undang apa pun atas nama presiden.