Penghalang jaring ini adalah pilihan terakhir setelah wisatawan asing mengabaikan rambu lalu lintas dan peringatan dari pihak keamanan.
Namun, pejabat tersebut mengatakan bahwa penduduk setempat berharap dapat menghilangkan penghalang tersebut setelah perilaku wisatawan berubah.
Tindakan terbaru Fujikawaguchiko terhadap turis asing ini terjadi setelah situasi serupa terjadi di Kyoto.
Baca Juga: 4 Kesalahan Leader yang Berkaitan dengan Egonya yang Tidak Terkendali, Terapkan Managemen Ego!
Seorang anggota dewan eksekutif distrik Gion, yang dianggap sebagai distrik geisha di Jepang, mengatakan kepada AFP bulan lalu bahwa wisatawan dilarang memasuki jalan-jalan pribadi tertentu.
Jepang mengalami ledakan pariwisata yang mendatangkan 25 juta wisatawan pada tahun 2023, angka tertinggi sejak 2019.
Tindakan kota Fujikawaguchiko telah menjadi berita utama nasional dan internasional, seiring dengan meningkatnya masalah overtourism di Jepang.
Khususnya di tempat-tempat populer seperti gang-gang sempit di Kyoto, dan bahkan di jalur Gunung Fuji sendiri, di mana wisatawan suka berfoto selfie dan mengunggahnya ke media sosial.
Beberapa wisatawan menyatakan pengertiannya, dan menyuarakan harapan bahwa kota tersebut akan menciptakan tempat berfoto khusus.
Baca Juga: Tanggapi Komentar CEO Microsoft, CEO Google Sundar Pichai: “Saya Enggan Mainkan Musik Orang Lain”
Namun ada pula yang berspekulasi bahwa penghalang tersebut hanya akan memperburuk keadaan.
"Menghentikan orang? Saya rasa tidak karena jika ada kemauan di situ ada jalan. Orang hanya akan berada di sisi kiri atau kanan," kata turis Australia berusia 29 tahun, Trinity Robinson.
"Pasti akan ada cara untuk tetap mendapatkan foto. Itu akan lebih berbahaya, kok."
Duh.