PejuangKantoran.com - Baru-baru ini Samsung Group mengumumkan bahwa semua eksekutifnya harus bekerja enam hari dalam seminggu.
Langkah ini terpaksa ditempuh lantaran perusahaan Korea Selatan itu menghadapi tantangan bisnis, termasuk kenaikan harga minyak, biaya pinjaman yang tinggi, dan penyusutan mata uang won Korea Selatan.
Selain itu, Samsung mengalami tahun keuangan yang mengecewakan pada tahun 2023, yang mencakup pendapatan sekitar $51 miliar pada kuartal terakhir tahun lalu, turun 3,8% year on year, dan turun 2,2% dibandingkan dengan prediksi awal analis.
Baca Juga: Agency Terkemuka Ogilvy Membuka Posisi Senior Content Strategist, yang Minat Buruan Ngelamar!
“Hal ini untuk menanamkan kesadaran akan krisis dan melakukan upaya maksimal untuk mengatasi krisis ini, " kata seorang eksekutif Samsung Group.
Banyak eksekutif lainnya dilaporkan bekerja enam hari dalam seminggu mulai bulan Januari, dan konglomerat Korea lainnya diperkirakan akan mengikuti jejaknya dalam beberapa bulan mendatang.
Sedangkan karyawan di bawah level eksekutif akan terus bekerja lima hari seminggu.
Hal ini rupanya bukan hal yang aneh dalam budaya kerja Korea Selatan. Pada tahun 2022, rata-rata pekerja Korea menghabiskan sekitar 1.901 jam kerja, menurut data dari Organization for Economic Co-operation and Development.
Pada tahun 2023, negara ini mendorong rencana 69 jam kerja dalam seminggu, yang kemudian dibatalkan setelah mendapat tentangan dari pekerja muda dan serikat pekerja.
Meskipun budaya kerja seperti ini normal di Amerika dan Korea Selatan, pola pikir tersebut mempunyai konsekuensi buruk terhadap kesejahteraan seseorang.
Baca Juga: Kota Resor Di Jepang Memasang Penghalang untuk Mencegah Turis Asing Mengambil Foto Gunung Fuji
Perusahaan mungkin berpikir bahwa memaksa karyawan untuk bekerja lebih lama dalam seminggu akan meningkatkan produktivitas. Namun kenyataannya, hal tersebut hanya membuat karyawan mengalami burnout.
Menurut penelitian dari Future Forum, dari 10.243 pekerja penuh waktu yang bekerja di belakang meja, yang disurvei di enam negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, lebih dari 40% mengatakan mereka kelelahan.
Sebagian besar kondisi burnout itu disebabkan oleh hari kerja yang panjang, dan lemahnya penegakan hak-hak pekerja.
Ada stigma kuno yang menyebut bahwa orang seharusnya senang bekerja lebih banyak karena mereka akan mendapat lebih banyak uang dan terkenal di perusahaan tempat mereka bekerja.