Rencana subsidi tarif KRL berbasis NIK dan Artificial Intelligence (AI) hingga saat ini masih dibahas pemerintah. Salah satunya dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk melihat teknis alokasi anggarannya.
Selain itu, jika subsidi benar diterapkan dengan basis AI, maka harus dilakukan juga pembahasan lebih teknis dari pihak pengelola data masyarakat.
Baca Juga: Tak Tergiur Gaji Besar di Amerika, Anggota DPR RI Firnando Ganinduto Pilih Balik ke Indonesia
Dengan begitu, sistem AI yang digunakan nantinya bisa cocok untuk semua pengguna.
Pada intinya, teknologi AI akan diadopsi untuk membantu pelayanan transportasi agar masyarakat lebih aman dan nyaman, tegas Adita.
Sistem subsidi tarif KRL sama dengan subsidi BBM
Dalam Buku II Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 yang diserahkan pemerintah ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada akhir Agustus 2024, tertulis rencana penerapan sistem subsidi tiket KRL berbasis NIK.
Selain memuat anggaran belanja subsidi Public Service Obligation (PSO) kereta, disebutkan juga tujuan rencana ini adalah untuk mendukung perbaikan kualitas dan inovasi pelayanan kelas ekonomi bagi angkutan kereta api, termasuk KRL Jabodetabek.
Baca Juga: Perusahaan Dapat Berperan Mencegah Kelelahan Kerja akibat Pekerjaan yang Berlebihan
Karena pemerintah menginginkan subsidi angkutan umum lebih tepat sasaran, maka nantinya sistem penerapan subsidi tarif KRL akan disamakan dengan penyaluran subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Untuk saat ini, tarif KRL Jabodetabek adalah Rp3.000 untuk 25 kilometer pertama dan bertambah Rp1.000 untuk setiap 10 kilometer selanjutnya. (Elga Windasari)