PejuangKantoran.com - Kematian karyawan Ernst & Young (EY), Anna Sebastian Perayil (26) karena kelelahan kerja memicu kesedihan dan kemarahan di dunia maya.
Sejumlah profesional dari industri tersebut, termasuk beberapa dari EY, lantas berbagi pengalaman tentang lingkungan kerja yang toxic, dan beban kerja yang berat.
Rekan kerja Anna mengklaim melalui Reddit bahwa mereka diberitahu tentang kematian Anna melalui surat di mana di dalamnya dilampirkan foto LinkedIn Anna dengan beberapa pesan singkat yang standar.
Baca Juga: Tragis, Meninggalnya Karyawan Ernst & Young akibat Kelelahan Kerja Ditepis Bos Perusahaan
Karyawan tersebut merespons surat yang dikirimkan ibunda Anna, Anita Augustine, pada pimpinan EY, dengan menulis: "Kami bekerja rata-rata 16 jam sehari di musim sibuk, dan 12 jam sehari di musim tidak sibuk.
“Tidak ada akhir pekan atau hari libur nasional yang (membuat kami bisa) libur. Setiap tahun EY secara sukarela mengumumkan hari libur untuk menyegarkan kembali semangat karyawan mereka.
“Dan ya, Anda bisa menebaknya, itu pun bukan hari libur. Kami juga bekerja pada hari itu – dari kantor!" tulisnya, sambil menambahkan bahwa lembur adalah satu-satunya cara untuk dipromosikan.
Karyawan lain bercerita bahwa mereka bekerja di KPMG selama empat tahun, dan harus bekerja saat terpapar Covid sampai-sampai tidak bisa duduk tegak karena demam dan lemas.
Mereka mengatakan bahwa manajer mereka menekankan bahwa mereka tidak menyelesaikan tugas meskipun mereka sudah menyerahkan laporan hasil tes Covid-positif.
Beberapa karyawan lain dari firma akuntansi yang masuk "The Big 4", yaitu Deloitte, PwC, KPMG, dan EY, memposting hal serupa di media sosial, dan merinci hari kerja yang bisa mencapai 14 hingga 18 jam.
Baca Juga: Tupperware Terancam Bangkrut Setelah 78 Tahun, Namun Sejarah Lunchbox Sendiri Lebih Tua Usianya
Mereka tidak banyak menerima dukungan dari manajer tentang cara menangani beban kerja dan stres mereka.
Dalam surat itu juga Anita Augustine juga menjelaskan mengenai curhatan Anna yang bekerja tanpa istirahat. Ia menyesal karena tidak dapat memastikan kesehatan anaknya, sebelum semuanya terlambat.
"Kami memintanya untuk mengundurkan diri dan kembali ke kampung halaman," tegasnya.
"Tidak ada keringanan pekerjaan sama sekali, dia meninggalkan kampung halamannya dan orang-orang terdekatnya," tambahnya.
Artikel Terkait
Pilot Susi Air Sudah Dibebaskan, Intip Gaji Pilot Di Indonesia Per Bulan
Menparekraf Sandiaga Uno Luncurkan Paket Wisata 3B. Apa Yang Dijanjikan?
Overtourism, Wisatawan Membludak Tak Selalu Menjadi Kabar Baik. Ini Dampak dan Solusinya
Pro dan Kontra Membajak Karyawan dari Perusahaan Kompetitor, Siapa Paling Diuntungkan?
Tulang Belulang Tulang Angkat Cerita Tentang Harkat Diri Keluarga Melalui Balutan Tradisi Batak
Tupperware Terancam Bangkrut Setelah 78 Tahun Beroperasi, Ini Biang Keroknya!
Ada Proyek Rekonstruksi Jalan Tol Jakarta-Cikampek selama Seminggu, Ini Antisipasi Kemacetannya!