Perusahaan Dapat Berperan Mencegah Kelelahan Kerja akibat Pekerjaan yang Berlebihan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 24 September 2024 | 22:17 WIB
Ilustrasi: Ada berbagai faktor penyebab kelelahan akibat pekerjaan yang berlebihan. (Freepik)
Ilustrasi: Ada berbagai faktor penyebab kelelahan akibat pekerjaan yang berlebihan. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Kematian karyawan Ernst & Young (EY), Anna Sebastian Perayil (26) karena kelelahan kerja memicu kesedihan dan kemarahan di dunia maya.

Sejumlah profesional dari industri tersebut, termasuk beberapa dari EY, lantas berbagi pengalaman tentang lingkungan kerja yang toxic, dan beban kerja yang berat.

Rekan kerja Anna mengklaim melalui Reddit bahwa mereka diberitahu tentang kematian Anna melalui surat di mana di dalamnya dilampirkan foto LinkedIn Anna dengan beberapa pesan singkat yang standar.

Baca Juga: Tragis, Meninggalnya Karyawan Ernst & Young akibat Kelelahan Kerja Ditepis Bos Perusahaan

Karyawan tersebut merespons surat yang dikirimkan ibunda Anna, Anita Augustine, pada pimpinan EY, dengan menulis: "Kami bekerja rata-rata 16 jam sehari di musim sibuk, dan 12 jam sehari di musim tidak sibuk.

“Tidak ada akhir pekan atau hari libur nasional yang (membuat kami bisa) libur. Setiap tahun EY secara sukarela mengumumkan hari libur untuk menyegarkan kembali semangat karyawan mereka.

“Dan ya, Anda bisa menebaknya, itu pun bukan hari libur. Kami juga bekerja pada hari itu – dari kantor!" tulisnya, sambil menambahkan bahwa lembur adalah satu-satunya cara untuk dipromosikan.

Karyawan lain bercerita bahwa mereka bekerja di KPMG selama empat tahun, dan harus bekerja saat terpapar Covid sampai-sampai tidak bisa duduk tegak karena demam dan lemas.

Mereka mengatakan bahwa manajer mereka menekankan bahwa mereka tidak menyelesaikan tugas meskipun mereka sudah menyerahkan laporan hasil tes Covid-positif.

Beberapa karyawan lain dari firma akuntansi yang masuk "The Big 4", yaitu Deloitte, PwC, KPMG, dan EY, memposting hal serupa di media sosial, dan merinci hari kerja yang bisa mencapai 14 hingga 18 jam.

Baca Juga: Tupperware Terancam Bangkrut Setelah 78 Tahun, Namun Sejarah Lunchbox Sendiri Lebih Tua Usianya

Mereka tidak banyak menerima dukungan dari manajer tentang cara menangani beban kerja dan stres mereka.

Dalam surat itu juga Anita Augustine juga menjelaskan mengenai curhatan Anna yang bekerja tanpa istirahat. Ia menyesal karena tidak dapat memastikan kesehatan anaknya, sebelum semuanya terlambat.

"Kami memintanya untuk mengundurkan diri dan kembali ke kampung halaman," tegasnya.

"Tidak ada keringanan pekerjaan sama sekali, dia meninggalkan kampung halamannya dan orang-orang terdekatnya," tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Independent, First Post, Work Safe

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X