Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi
Masalah ini membuat kalangan pencari kerja ikutan geram. Banyak komentator di utas Reddit yang mengungkapkan bahwa mereka mengalami pengalaman serupa dengan sistem pelacakan pelamar.
“Di tahun awal kuliah, teman sekamar saya melamar lowongan magang. Dia mendapat email penolakan 30 detik sebelum menerima email yang menyatakan lamarannya sudah diterima lol,” tulis seorang pengguna.
Baca Juga: Jenis Minum Kopi Yang Kamu Minum Bisa Mencerminkan Karakter dan Kepribadian Kamu
"Sangat menyebalkan. Saya menghabiskan waktu berjam-jam menyusun tanggapan atas pertanyaan lamaran, tetapi lamaran ditolak secara otomatis beberapa detik kemudian. Bahkan mereka bisa-bisanya menulis pesan ‘After careful consideration’ itu. Konyol," keluh yang lain.
Yang lain berbagi beban emosional yang dialami para pencari kerja akibat metode Applicant Tracking System tersebut.
"Saya mengerjakan resume saya selama berjam-jam, tetapi ternyata SDM hanya membacanya sekilas. Resume saya adalah cerminan dari pencapaian hidup saya, dan benar-benar frustrasi rasanya membayangkan mereka bahkan tidak mau repot-repot membacanya," lanjut pengguna lain.
Kemarahan semakin meluas ketika seorang pejabat SDM mengomentari unggahan tersebut. Ia mengklarifikasi bahwa meskipun tidak semua personel HRD tidak kompeten, inefisiensi sering kali datang dari atasan.
Baca Juga: Lowongan Kerja: KOL Specialist di Kopi Kenangan
"Tidak semua dari kami salah, tetapi lebih sering ketidakmampuan itu datang dari atas. Namun, tidak ada alasan untuk proses perekrutan yang salah," kata pejabat SDM tersebut.
Kasus ini menimbulkan kekhawatiran tentang ketergantungan yang berlebihan pada teknologi perekrutan, dan kurangnya keterlibatan manusia dalam keputusan rekrutmen yang penting.
Potensi inefisiensi yang meluas juga disoroti, ketika Applicant Tracking System jadi tidak terkendali. Perusahaan bisa rugi karena kehilangan kandidat yang berbakat, dan merusak reputasi mereka dalam proses tersebut.