news

Survei LinkedIn: Pekerja Asia Pasifik Menghadapi Tantangan Besar di Dunia Kerja yang Terus Berubah

Kamis, 7 November 2024 | 08:07 WIB
Ilustrasi bekerja (Freepik/Lifestyle Memory)

PejuangKantoran.com - Perubahan cepat di dunia kerja kini menjadi tantangan besar bagi para profesional, termasuk di Indonesia.

Survei terbaru yang dilakukan oleh LinkedIn terhadap lebih dari 6.000 tenaga profesional di seluruh Asia Pasifik (APAC) mengungkapkan fakta mengejutkan: 67% dari mereka merasa kewalahan dengan percepatan perubahan yang terjadi, sementara 77% berusaha mencari lebih banyak bantuan daripada sebelumnya.

Tidak hanya itu, 57% di antaranya merasa khawatir akan kesulitan mengikuti perkembangan dunia kerja yang kian dinamis.

Pekerja di APAC kini harus berhadapan dengan tiga tantangan terbesar: adopsi teknologi AI di tempat kerja (34%), keberhasilan bekerja dari kantor (WFO) (28%), dan tuntutan untuk terus melakukan upskilling (27%). Tantangan ini semakin terasa bagi generasi muda yang baru saja memasuki pasar kerja atau sedang mempersiapkan diri untuk berkarier.

Baca Juga: BRI Mendukung Profesionalisme & Peningkatan Kompetensi Jurnalis Lewat BRI Fellowship Journalism 2025

AI dan Keterampilan Baru: Kunci Masa Depan Karier

Dari survei tersebut, LinkedIn juga menyoroti bahwa 56% pekerja di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, percaya bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengubah cara mereka bekerja. Bahkan, 51% profesional menganggap kemampuan untuk mengoperasikan AI dengan nyaman adalah faktor penentu dalam kemajuan karier mereka. Untuk itu, semakin banyak anak muda yang mencari cara untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam menggunakan teknologi AI.

Buktinya? Penggunaan kursus LinkedIn Learning yang berfokus pada pengembangan kompetensi AI meningkat 117% dalam setahun terakhir. Di Indonesia, Universitas Indonesia (UI) sudah resmi merilis akses LinkedIn Learning kepada sekitar 18.000 mahasiswa, yang langsung mencetak lonjakan signifikan dalam penggunaan platform pembelajaran tersebut. Konten dalam bahasa Indonesia bahkan mencatatkan engagement hingga 300% pada bulan Mei 2024!

Hal ini semakin penting, mengingat hampir 7 dari 10 perusahaan di Indonesia (sekitar 69%) kini tidak akan mempekerjakan kandidat yang tidak memiliki kemampuan AI. Beruntungnya, tenaga kerja Indonesia dikenal cepat beradaptasi terhadap perubahan, termasuk dalam memanfaatkan teknologi baru.

Baca Juga: Bandara Soekarno-Hatta Kategori 3 Star Airport, Bandingkan Dengan 10 Bandara Terindah Di Dunia Ini!

Lebih dari Sekadar Pengalaman: Pembelajaran Berkelanjutan Jadi Kunci

Survei LinkedIn juga mengungkapkan bahwa pengalaman kerja saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan. Sebanyak 59% profesional di Asia Pasifik mengakui hal ini, dan 53% merasa mereka membutuhkan panduan lebih jelas tentang keterampilan apa yang perlu mereka kuasai untuk menghadapi perubahan tempat kerja. Namun, yang paling mencengangkan adalah bahwa hanya 39% yang merasa dapat mengandalkan manajer mereka dalam menghadapi periode transisi ini.

Banyak yang mulai mencari solusi di platform seperti LinkedIn, yang tidak hanya memberikan informasi terkini, tetapi juga akses ke kursus-kursus yang dapat membantu mereka beradaptasi dengan perubahan tersebut. Di Indonesia, konsumsi konten pembelajaran di LinkedIn tumbuh 59% dari tahun ke tahun, menandakan bahwa semakin banyak yang meluangkan waktu untuk meningkatkan keterampilan mereka.

 

Tags

Terkini