Jika dirinci dampak lingkungannya, pelatihan model AI yang besar membutuhkan banyak sumber daya. Misalnya, pelatihan GPT-3, yang menjadi dasar ChatGPT, menghabiskan sekitar 1.287 MWh listrik.
Pelatihan tersebut juga menghasilkan 552 ton CO2, yang setara dengan emisi dari 110 mobil bertenaga gas selama setahun, begitu menurut analisis Karmametrix.com.
Pelatihan model-model ini membutuhkan pemrosesan kumpulan data yang sangat besar selama beberapa minggu atau bulan, dengan memanfaatkan ribuan GPU yang menghabiskan listrik dalam jumlah besar.
Pemborosan setengah liter air
Membandingkan kueri ChatGPT dengan metrik sumber daya alam, Kate Crawford mengatakan bahwa setiap pencarian di sana sama saja dengan menghasilkan pemborosan setengah liter air.
Perbandingan ini saja menunjukkan bahwa setiap perusahaan AI tidak boleh hanya fokus pada siapa yang memimpin, tetapi juga siapa yang lebih berfokus pada keberlanjutan.
"Kami membuang-buang banyak air dengan sistem ini dan sangat sedikit orang yang menyadari bahwa itu adalah masalah besar,” ujarnya.
Itulah mengapa ia berpikir bahwa prioritas utama saat ini adalah keberlanjutan, bukan mencari teknologi AI mana tak terbaik.
Baca Juga: Tips Menjawab Pertanyaan Soal Aspirasi Karir Saat Wawancara Kerja
Jangan jadi penyebab masalah di masa mendatang
Setelah dua tahun lalu ChatGPT diluncurkan, Kate percaya bahwa sekarang saatnya untuk melihat layanan tersebut dari kegunaan dan keberhasilannya untuk umat manusia keseluruhan, bukan hanya sebagian orang.
Secara umum, AI generatif harus menjadi faktor yang berkontribusi bagi masyarakat yang sejahtera daripada menyebabkan masalah yang harus ditangani manusia di tahun-tahun mendatang. (Elga Windasari)