PejuangKantoran.com - Industri teknologi sering disebut sebagai dunia laki-laki. Padahal, sejak tahun 2000-an jumlah perempuan di industri teknologi terus meningkat. Dari yang awalnya hanya sekitar 9%, kini sudah mencapai 35% dari total tenaga kerja.
Tetapi meskipun makin banyak perempuan yang terjun ke dunia teknologi, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret, yuk kita lihat bagaimana tantangan perempuan di industri teknologi.
Dulu susah, sekarang lebih baik?
Baca Juga: Cara Mendapatkan Pekerjaan di Bidang Digital Marketing, Lulusan SMK Juga Punya Peluang!
Elena Arabgadi, seorang Software Engineer di Aqilla, bercerita bahwa 20 tahun lalu, ia adalah satu-satunya developer Java perempuan di kotanya. Bisa bayangkan gimana rasanya?
Saat itu, bekerja di lingkungan yang mayoritas laki-laki bukan hal yang mudah. Sekarang, situasinya memang sudah lebih baik. Perempuan punya lebih banyak kesempatan di berbagai bidang teknologi, mulai dari coding hingga manajemen proyek.
Namun, tantangan belum berakhir. Banyak perempuan masih merasa terisolasi di lingkungan kerja mereka. Catherine Roy, COO WorkJam, bilang kalau membangun hubungan baik dengan rekan kerja laki-laki bisa membantu, tapi yang lebih penting perusahaan mampu menciptakan lingkungan yang inklusif.
Misalnya, jangan sampai keputusan penting dibuat di luar jam kerja sambil minum bir—karena itu bisa bikin perempuan (atau siapa pun yang nggak ikut) jadi tertinggal. Yang terpenting, menurutnya, kompetensi harus jadi fokus utama, bukan gender.
Belajar dan berkembang: kunci kesuksesan
Becky Wallace, Head of People di LearnUpon, menekankan pentingnya pelatihan dan program pengembangan khusus untuk perempuan. Misalnya, pelatihan negosiasi, kepemimpinan, dan pengembangan karier.
Baca Juga: Tabungan BritAma Driver Blue Bird Dirancang Khusus untuk Efisiensi Transaksi Mitra Pengemudi
Banyak perempuan yang kurang percaya diri untuk meminta promosi atau kenaikan gaji, padahal mereka punya kemampuan yang sama atau bahkan lebih baik dari kolega laki-laki mereka.
Selain itu, manajer juga harus sadar akan bias, baik yang disadari maupun yang tidak. Bukan sekadar ikut pelatihan untuk memenuhi syarat perusahaan, tapi benar-benar menerapkan kebijakan yang adil dalam perekrutan, promosi, dan gaji.
Mulai dari pendidikan
Untuk benar-benar meningkatkan jumlah perempuan di industri teknologi, perubahan harus dimulai dari pendidikan. Banyak anak perempuan yang sejak kecil sudah merasa teknologi hanya untuk anak laki-laki, padahal sebenarnya mereka punya potensi yang sama besar.