Desainer grafis meninggal di kamar kos
Adi Sucianto (30) ditemukan meninggal di kamar kosnya yang berada di Jambidan, Banguntapan, Bantul, Minggu (16/7/2023). Saat ditemukan, tubuhnya dalam kondisi tengkurap di tempat tidur.
Awalnya, pada dini hari salah satu tetangga kos mendengar suara mengerang kesakitan dari kamar Adi. Penghuni kos yang lain lalu menunggu Adi keluar dari kamar untuk mandi atau keluar membeli makan.
Namun setelah ditunggu hingga pukul 19.00, Adi tidak juga keluar. Melalui kaca jendela, mereka melihat posisi Adi yang tengkurap. Mereka pun melapor ke Polsek Banguntapan, yang kemudian datang bersama Tim Inafis Polres Bantul untuk melakukan pemeriksaan.
"Dari hasil pemeriksaan medis, korban meninggal sudah 3 jam yang lalu. Untuk kondisi korban, badan sudah kaku dan muka, dada lebam membiru.
“Selain itu tidak ada tanda-tanda kekerasan namun ditemukan minuman suplemen di dalam botol," ucap Kasi Humas Polres Bantul Iptu I Nengah Jeffry.
Keluarga menyebut Adi memang kerap begadang dan mengkonsumsi kopi. Hal itu karena sebagai desain grafis ia harus bekerja hingga larut malam. Kondisi itu membuat Adi menderita penyakit asam lambung.
Karyawan EY meninggal setelah hanya empat bulan bekerja
Anna Sebastian Perayil (26) baru empat bulan bekerja sebagai akuntan di SR Batliboi, anak perusahaan Ernst & Young Global, di Pune, kota di negara bagian Maharashtra bagian barat, India.
Baca Juga: 5 Hal yang Tidak Akan Dilakukan Karyawan Hotel di Kamar Hotel Mereka Sendiri
Namun dalam masa kerjanya yang begitu singkat, Anna meninggal dunia. Ayah Anna mengatakan bahwa kematian anaknya disebabkan oleh kombinasi dari berbagai masalah termasuk refluks asam lambung, stres kerja, dan tekanan pekerjaan.
Sedangkan menurut ibunya, Anita Augustine, dalam suratnya kepada pimpinan EY India, Anna yang mulai bekerja di EY Pune pada bulan Maret, mengalami beban kerja, lingkungan baru, dan jam kerja yang panjang.
Hal itu membebani diri Anna secara fisik, emosional, dan mental, sampai akhirnya ia menghembuskan napas terakhir pada Juli 2024.
Karyawan Pinduoduo meninggal setelah bekerja 12 jam lebih tiap hari