Pergeseran ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan analis ketenagakerjaan, terutama karena posisi yang paling cepat terdampak adalah entry-level atau level pemula.
Pekerjaan yang selama ini menjadi langkah awal karir bagi lulusan baru, kini semakin sulit ditemukan. Kondisi ini membentuk struktur pasar kerja yang menyerupai bentuk berlian, yaitu posisi paling atas dan paling bawah semakin sedikit, sedangkan peran di level menengah justru semakin banyak.
CEO Bondex, Ignacio Palomera, menyebut bahwa AI secara perlahan menghapus anak tangga terbawah dalam dunia kerja, khususnya di sektor informasi dan teknologi. Profesional muda dan staf operasional menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak ini.
Tren serupa juga terlihat di banyak perusahaan besar lainnya. Microsoft, misalnya, melakukan PHK dalam jumlah besar dan mengalihkan fokusnya ke investasi berbasis AI.
Business Insider juga mengurangi 21% karyawannya, termasuk reporter dan editor, sebagai upaya memperluas penggunaan konten yang dihasilkan oleh AI.
Sebaliknya, perusahaan yang tertinggal dalam pengembangan AI, seperti Intel, terpaksa kembali melakukan PHK demi menyesuaikan arah bisnis.
Baca Juga: Pentingnya Peran HR dalam Melakukan Mediasi Karyawan saat Terjadi Konflik di Tempat Kerja
Harus ada penyesuaian strategi
Hilangnya peran entry-level ini tentu saja menimbulkan tantangan baru. Jalur pengembangan karier yang selama ini bertumpu pada pengalaman kerja bertahap mulai terputus.
Tanpa penyesuaian strategi dari dalam, perusahaan berisiko menghadapi penurunan motivasi kerja. Jika perusahaan menolak transformasi digital, jangan heran jika mereka semakin kehilangan loyalitas dari talenta yang paling berdedikasi.