Meta memperkenalkan model langganan yang memungkinkan pembuat konten dan bisnis memonetisasi keberadaan mereka di WhatsApp:
• Pengiriman Konten Premium: Pemilik bisnis dan pembuat konten dapat menawarkan pembaruan eksklusif kepada pelanggan berbayar.
• Model Bagi Hasil: Meta mengambil persentase (diperkirakan antara 15-30%) dari biaya langganan.
• Integrasi Ekonomi Kreator: Memposisikan WhatsApp sebagai platform yang layak bagi influencer dan pembuat konten.
Baca Juga: 7 Kebiasaan yang Dimiliki Tim-tim yang Bisa Bekerja Sama dengan Baik, Tim Kamu Sudah Memilikinya?
2. Business Promotion Tools:
WhatsApp juga memperkenalkan kemampuan promosi untuk bisnis yang ingin memperluas jangkauan mereka:
• Peningkatan visibilitas: Promosi berbayar meningkatkan visibilitas saluran ke calon pelanggan.
• Peningkatan algoritma: Saluran yang dipromosikan menerima posisi preferensial dalam fitur penemuan.
• Paparan yang ditargetkan: Bisnis dapat menjangkau segmen demografi tertentu berdasarkan profil pengguna.
"Bisnis akan dapat membayar untuk mempromosikan visibilitas saluran mereka kepada pengguna baru," catat Equity Mates, menjelaskan bagaimana WhatsApp membantu bisnis mengatasi tantangan visibilitas. Hasil adopsi awal sangat menjanjikan.
Contohnya, Jiomart di India berhasil meningkatkan pelanggan salurannya hingga 40% selama penjualan Diwali 2024 berkat fitur ini.
Bagaimana pengaruhnya bagi pengguna?
Yang menarik, strategi monetisasi Whatsapp dirancang agar tujuan komersial dan pengalaman pengguna tetap utuh, caranya:
• Tidak ada iklan di chat pribadi
• Enkripsi end-to-end tetap berlaku
• Pengguna bebas memilih apakah ingin mengikuti kanal atau tidak
Selama uji coba di Brasil dan India, 72% pengguna bahkan tidak menyadari adanya iklan, menandakan implementasi yang cukup mulus.
Bagaimana dengan privasi pengguna?
Pertanyaan soal privasi memang muncul, terutama karena adanya penggunaan metadata untuk iklan. Namun Meta menegaskan bahwa isi pesan tetap tidak disentuh, semuanya tetap terenkripsi.