"Kami pernah posting model AI berkulit gelap, tapi tidak ada engagement. Tidak ada yang suka atau berkomentar," ujar Gonzalez. "Akhirnya kami kembali ke konten yang memang bisa mendatangkan klien."
Sayangnya, teknologi mereka saat ini belum mendukung penciptaan model plus-size. “Teknologinya belum cukup canggih untuk itu,” kilah Petrescu.
Baca Juga: 8 Keterampilan Virtual Assistant Yang Wajib Dikuasai Sekarang dan Dipersiapkan Untuk Masa Depan
Tidak menghilangkan pekerjaan manusia
Dampak dari model AI ini tak hanya dirasakan oleh para model profesional, tapi juga konsumen, terutama anak muda yang sudah bergulat dengan standar kecantikan tak realistis.
Vanessa Longley, CEO lembaga amal Beat yang fokus pada gangguan makan, menyebut iklan ini sebagai hal yang mengkhawatirkan.
“Jika seseorang terus-menerus melihat gambar tubuh yang tidak realistis, itu bisa memengaruhi cara mereka melihat tubuh mereka sendiri,” ujarnya. “Hal ini meningkatkan risiko gangguan makan.”
Apalagi, label bahwa model tersebut dibuat oleh AI itu sangat kecil dan mudah terlewat. Padahal menurut Sinead Bovell, mantan model yang kini jadi pengusaha teknologi, transparansi itu sangat penting.
“Orang-orang harus tahu bahwa yang mereka lihat bukan manusia sungguhan,” katanya.
Meskipun begitu, para pembuat model AI ini bersikukuh bahwa teknologi ini bukan untuk menggantikan, tapi melengkapi.
“Kami tidak menghilangkan pekerjaan manusia. Justru kami mempekerjakan fotografer dan model asli untuk melihat bagaimana baju terlihat di tubuh manusia sebelum dibuat versi AI-nya,” kata Petrescu.
Namun kenyataannya, situs Seraphinne mempromosikan layanan mereka sebagai solusi hemat biaya karena tak perlu lagi menyewa fotografer, MUA, atau menyewa lokasi pemotretan.
Kalau sudah begini, apakah model AI di majalah Vogue ini bisa disebut masa depan dunia fashion? Atau hanya tren sementara yang akan ditinggalkan saat publik mulai sadar betapa tidak nyatanya semua ini?
Kita tunggu saja. Yang jelas, seperti kata Bovell, “Kita belum menuju masa depan di mana semua model diciptakan oleh AI, tapi kita memang sedang menuju ke arah itu.”