Bahasa Spanyol juga menunjukkan tren serupa. Dari total 558 juta penutur, 87% adalah penutur asli yang tersebar di Amerika Latin dan Spanyol.
Kedua bahasa ini kuat karena jumlah populasi penuturnya, bukan karena penyebaran internasionalnya.
Baca Juga: Mira Lesmana Ungkap Poster dan Trailer 'Rangga dan Cinta', Segar tapi Juga Bernuansa Nostalgia
Kebangkitan Bahasa Asia Selatan dan Afrika
Bahasa Hindi menempati posisi ketiga dengan total 609 juta penutur, sementara Bengali dan Urdu masing-masing digunakan oleh 284 juta dan 246 juta orang.
Di India sendiri, Hindi menjadi bahasa yang paling banyak digunakan, dipakai oleh lebih dari separuh populasi. Namun, seperti Mandarin, jangkauan internasional bahasa-bahasa ini masih terbatas, termasuk di dunia digital.
Dari Afrika, Swahili dan Nigerian Pidgin menjadi contoh menarik. Meski hanya memiliki kurang dari 10 juta penutur asli, jumlah total penggunanya mencapai lebih dari 80 juta berkat fungsinya sebagai bahasa penghubung di kawasan perdagangan dan media.
Ini menunjukkan bagaimana bahasa-bahasa lokal bisa berkembang menjadi alat komunikasi regional yang vital.
Bahasa Indonesia: Besar karena jumlah penduduknya
Bahasa Indonesia juga masuk dalam daftar bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia, dengan sekitar 252 juta penutur pada 2025. Jumlah penutur ini masih di bawah jumlah penduduk Indonesia tahun 2025 yang sebesar 286 juta jiwa.
Baca Juga: Contoh Penulisan Skill Penjualan dalam Bentuk Poin untuk Daftar Pengalaman Kerja di CV
Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 75 juta yang merupakan penutur asli. Namun, bahasa ini digunakan luas sebagai bahasa kedua oleh masyarakat dari berbagai latar belakang etnis di Indonesia.
Bahasa Indonesia sendiri memiliki struktur tata bahasa yang relatif sederhana dan digunakan secara resmi dalam pendidikan, pemerintahan, dan media.
Meski begitu, kehadirannya di dunia maya masih rendah, yaitu kurang dari 0,1% dari seluruh konten web. Seperti bahasa Hindi, jumlah penutur bahasa Indonesia besar karena populasinya yang banyak, bukan karena penyebarannya secara internasional.
Dari data Ethnologue tersebut, terlihat bahwa dominasi bahasa di tingkat global tidak hanya bergantung pada jumlah penutur asli, tetapi juga pada adopsi sebagai bahasa kedua dan dukungan institusional.