PejuangKantoran.com - Rumah Sri Mulyani dijarah massa. Ya, rumah milik Menteri Keuangan yang berlokasi di Jalan Mandar, Bintaro Sektor 3A, Tangerang Selatan, itu menjadi sasaran penjarahan pada Minggu dini hari, 31 Agustus 2025.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam, bukan hanya karena barang-barang berharga yang hilang, tetapi juga karena kenangan pribadi yang ikut direnggut.
Sebenarnya, rumah di Bintaro tersebut sudah dimiliki Sri Mulyani jauh sebelum ia masuk ke pemerintahan. Saat masih menjadi Kepala LPEM Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1998–2001), Sri Mulyani kerap mengundang wartawan ekonomi untuk berdiskusi di sana.
Baca Juga: Film 'Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah' Jadi Refleksi Perasaan Ibu yang Kerap Tidak Dipahami
Sambil memasak untuk tamu-tamunya, Sri menjelaskan tentang krisis 1998 yang kala itu mengguncang Indonesia.
Lukisan bunga yang dijarah
Dari sekian banyak barang yang dijarah, satu yang paling disesalkan hilang adalah lukisan bunga yang ternyata karya Sri Mulyani sendiri, yang dilukisnya 17 tahun lalu.
“Itu simbol perenungan dan kontemplasi diri, sangat pribadi. Sama seperti rumah ini, tempat anak-anak saya tumbuh dan bermain, sangat pribadi dan menyimpan kenangan yang tak ternilai harganya,” tulisnya di akun Instagram pribadinya, @smindrawati.
Menurut keterangan petugas keamanan, massa datang dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama tiba sekitar pukul 00.30 – 01.00 WIB dengan jumlah ratusan orang. Gelombang kedua datang lebih besar lagi sekitar pukul 02.30 – 03.00 WIB.
Saksi mata menyebut ada aba-aba berupa bunyi kembang api sebelum massa masuk ke dalam kompleks. Setelah kembang api terdengar, kerumunan langsung merangsek masuk.
Namun, beberapa warga sekitar tidak bisa memastikan hal itu, meski mengakui memang setelah bunyi kembang api, massa mulai menyerbu. Yang jelas, warga sekitar meyakini para penjarah bukan berasal dari lingkungan mereka.
“Kalau warga sini pasti saya kenal. Ini orang luar semua. Mereka juga bukan pendemo, soalnya tidak ada spanduk atau tuntutan. Murni datang untuk menjarah,” kata salah seorang warga.
Baca Juga: Aliansi Perempuan Indonesia Desak Pemerintah Beri Perlindungan pada Para Korban yang Ditangkap
Dugaan koordinasi dan tujuan politik
Pengamat keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai peristiwa rumah Sri Mulyani dijarah ini tampaknya bukan sekadar tindak kriminal spontan.
Menurutnya, pola penyerangan ke rumah pejabat negara dengan waktu yang terukur dan massa yang terorganisasi menimbulkan pertanyaan besar.
“Apakah ini murni kejahatan, atau ada pihak yang ingin menciptakan instabilitas politik dan menurunkan kepercayaan publik pada pemerintah?” ujarnya.