Pejuangkantoran.com – Seberapa besar potensi Indonesia dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) lainnya?
Pertanyaan ini menjadi penting terkait dengan penjelasan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tentang rencana pemerintah dalam mengurangi subsidi listrik tanpa membuat masyarakat terbebani oleh kenaikan tarif.
Pemerintah, menurut Purbaya Yudhi, salah satu langkahnya adalah pengembangan PLTS dan EBT lainnya.
Purbaya Yudhi menyampaikan bahwa dalam rapat dengan Presiden Prabowo (Jumat, 19 Sepember 2025) di Hambalang, program PLTS menjadi salah satu topik yang didiskusikan dalam pengurangan subsidi listrik, meskipun harganya masih tinggi.
Seperti yang disampaikan di web site PLN, web.pln.co.id, (5 Juni 2025), di antara semua jenis pembangkit EBT, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi kontributor terbesar.
Menurut web site ini, kontribusi yang diproyeksikan dalam rencana tersebut, PLTS menyumbang kapasitas 17,1 GW, disusul Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 11,7 GW.
Selain energi surya dan air, pengembangan kapasitas pembangkit EBT juga mencakup energi angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan nuklir 0,5 GW.
Pembangkit hijau tersebut didukung oleh sistem penyimpanan energi (energy storage) sebesar 10,3 GW yang terdiri PLTA pumped storage 6 GW dan battery energy storage system (BESS) 4,3 GW.
Baca Juga: Menteri Keuangan Purbaya Pastikan Subsidi Listrik Dikurangi, tapi Bukan dengan Kenaikan Tarif
Potensi EBT Indonesia Besar dan Tersebar
Seperti yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, yang dikutip oleh web site resmi PLN ini, pengembangan pembangkit EBT dirancang menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki potensi EBT besar, tersebar, dan beragam.
“Kita pastikan pengembangan EBT dilakukan sesuai potensi lokal dan kebutuhan di setiap wilayah. Dari Sumatra hingga Papua kita dorong agar semua wilayah tumbuh dengan energi bersih,” ujar Bahlil usai mengumumkan RUPTL 2025-2034 di Jakarta, Senin (26 Juni 2025).
Radiasi matahari menjadi sumber energi PLTS. Oleh karena itu PLTS pengembangannya akan mendominasi di wilayah dengan potensi radiasi matahari yang cukup tinggi.