news

Lagi Jadi Tren, Ini Keuntungan dan Kerugian Bekerja sebagai Private Staff Para Miliarder

Senin, 17 November 2025 | 09:33 WIB
Julia Dudley (26), lulusan S-2 di jurusan komunikasi yang meninggalkan pekerjaannya di agensi dan restoran dan memilih jadi private chef. (Instagram @juliadudley)

Julia Dudley (26), yang lulus S-1 dan S-2 di jurusan komunikasi, malah lanjut sekolah kuliner. Dia meninggalkan pekerjaannya di agensi dan restoran, dan memilih jadi private chef untuk keluarga miliarder.

"Gini lho, (dengan jadi private chef)  aku bisa mengatur jam kerja sendiri, gajinya lebih gede, aku jadi bos buat diriku sendiri," katanya. "Ini jauh lebih menarik daripada harus sibuk di dapur restoran."

Baca Juga: OJK Tetapkan Aturan Baru tentang Kategori Rekening yang Tidak Aktif dan Dinyatakan Dormant

Menurutnya, dengan menjadi private chef di daerah elit Hamptons selama beberapa bulan musim panas saja dia sudah bisa mendapat gaji enam digit! Itu sebabnya Daniel bilang, banyak koki dari restoran bintang lima yang pindah ke layanan pribadi.

"Mereka tahu betapa capeknya kerja di restoran, tapi dengan pindah dan kerja buat miliarder, gaji bisa naik tiga kali lipat!"

Sisi lain: stres dan pengorbanan

Meski begitu, ada satu hal yang harus dipahami buat siapapun yang ingin mengikuti jejak para private staff ini. Gaji mereka memang fantastis, tapi kerja sama miliarder itu nggak mudah.

"Kamu dibayar mahal karena diharapkan siaga di luar jam kerja normal (9-to-5), dan jam kerjanya seringkali panjang," kata Ruth Edwards, seorang perekrut dari Tiger Recruitment.

Daniel menambahkan, di industri private staffing, apalagi jika bekerja untuk miliarder atau selebriti, "Energi kamu harus banyak karena ritmenya selalu cepat banget."

Kamu harus siap melakukan apa pun yang dibutuhkan "principal" (sebutan keren buat klien).

Baca Juga: 3 Cara Menolak dengan Tegas tapi Sopan lewat Chat, buat yang Orangnya Paling Nggak Enakan

"Kalau pengurus rumah sudah pulang dan anjingnya pup di ruang tamu, dan kamu lagi sama si VIP, ya siapa pun yang ada harus bersihin,” ujar Daniel.

Tetapi, tetap ada imbalannya: "Setelah kamu membereskannya, 30 menit kemudian mungkin kamu sudah duduk di studio film bareng bos kamu, membantu dia closing film senilai $50 juta."

Tingkat stresnya juga bisa lebih parah dari kerja di bursa efek. Menurut Cassidy O’Hagan, yang bekerja sebagai pengasuh anak untuk salah satu crazy rich family, tantangan terbesarnya adalah batas antara hidup pribadi dan profesional jadi kabur.

"Kita nggak cuma bekerja buat keluarga itu, tapi juga tinggal sama mereka, tenggelam dalam ritme, dinamika, dan momen pribadi mereka," ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini