Jadi, apakah miliarder bisa etis?
Inilah inti dari drama yang panjang ini. Ada dua kubu besar yang terbentuk yaitu:
1. Kubu “miliarder etis”
Mereka percaya bahwa:
• Etika tidak ditentukan oleh jumlah uang.
• Paling penting adalah cara mengumpulkan dan membelanjakan kekayaan.
• Donasi, filantropi, dan dukungan terhadap isu sosial bisa menjadi bukti bahwa miliarder juga bisa berkontribusi positif.
Baca Juga: Kenali Isi RUU KUHAP yang Sudah Resmi Disahkan, Apa Artinya untuk Kamu sebagai Warga Negara?
2. Kubu miliarder tidak mungkin etis
Mereka berpendapat bahwa:
• Tidak mungkin mengumpulkan miliaran tanpa memanfaatkan celah sistem.
• Kekayaan ekstrem itu sendiri adalah bentuk ketidakadilan.
• Filantropi tidak bisa menebus jejak karbon, eksploitasi, atau ketimpangan ekonomi.
Jadi sebenarnya, tidak ada yang benar dan salah karena ini bukan ilmu eksak. Isu miliarder etis akan selalu kembali berulang di internet. Setiap ada contoh baru, selain Taylor Swift dan Rihanna, diskusinya akan kembali memanas.
Mengapa? Karena ini bukan sekadar tentang uang. Ini tentang moralitas, kekuasaan, keadilan, dan bagaimana masyarakat memandang orang kaya di era ketimpangan yang semakin nyata.
Kalau menurut kamu bagaimana?