news

45% Pekerja Asing Berketerampilan Tinggi yang Bekerja di Jepang Digaji di Bawah Lulusan Baru

Minggu, 1 Februari 2026 | 21:07 WIB
Ilustrasi: Hampir separuh pekerja asing dengan keterampilan tinggi ternyata mendapat pekerjaan yang tidak butuh keahlian khusus di Jepang. (Freepik)

Di sisi lain, jumlah pemegang visa Koudo Senmon Shoku terus meningkat. Hingga akhir Juni tahun lalu, terdapat sekitar 458.000 orang dengan visa kategori teknik, humaniora, dan layanan internasional, naik 9,4% dibandingkan akhir 2024. Sebaliknya, jumlah pekerja magang teknis justru turun 1,6% akibat pengetatan regulasi.

“Ada peningkatan jumlah broker di Vietnam dan Jepang yang mengirim pekerja berketerampilan tinggi ke Jepang," ujar Yoshihisa Saito, dosen Universitas Kobe.

Ia menambahkan bahwa beberapa di antara broker itu mengirim pekerja selama biaya dibayar, bahkan jika pekerja tersebut tidak bisa berbahasa Jepang.

Akibatnya, banyak pekerja asing tidak mampu menjalankan pekerjaan yang dijanjikan dan kesulitan mencari alternatif lain untuk bekerja di Jepang.

Baca Juga: Penjualan Struk Pembelian Fiktif Marak, Picu Kekhawatiran Penyalahgunaan Klaim Reimburse

Dari sisi kebijakan, pengacara imigrasi Koji Yamawaki menilai ada celah dalam sistem. Ia mengatakan, banyak perusahaan memilih visa teknik, humaniora, dan layanan internasional.

"Karena proses administrasinya lebih mudah dibandingkan jalur magang teknis atau pekerja terampil tertentu," jelasnya.

Sayangnya, untuk kategori visa Highly Skilled Professional ini, tidak ada sistem pendampingan dan pengawasan seketat program lain, sehingga pekerja sering kali terisolasi.

Yamawaki menegaskan bahwa pengawasan perlu diperketat. Ia juga menilai prosedur untuk jalur pekerjaan kerah biru seharusnya disederhanakan agar perusahaan tidak menyiasati sistem.

Tanpa perbaikan kebijakan, visa Koudo Senmon Shoku berisiko terus disalahgunakan, dan tujuan awal untuk menarik talenta global bekerja di Jepang bisa semakin jauh dari kenyataan.

Halaman:

Tags

Terkini