Istilah ini diperkenalkan oleh psikiater asal New York, Rami Kaminski, yang mengamati bahwa sebagian orang tidak cocok dengan kategori introvert maupun ekstrovert. Mereka bisa bersosialisasi dengan baik, tetapi tetap merasa berbeda dari dinamika kelompok di sekitarnya.
Baca Juga: 6 Cara Memecahkan Kode Tersembunyi dari Iklan Lowongan Kerja yang Wajib Kamu Tahu!
Apa Itu Otrovert?
Kata “otrovert” berasal dari bahasa Spanyol otro yang berarti “yang lain”. Konsep ini menggambarkan individu yang sering merasa seperti pengamat dari luar, bukan bagian dari kerumunan sosial.
Jika introvert cenderung mengarahkan energi ke dalam diri dan ekstrovert ke lingkungan sosial, maka otrovert memiliki orientasi yang berbeda: mereka melihat dunia dari sudut pandang yang tidak selalu sejalan dengan orang lain.
Akibatnya, banyak otrovert merasa tidak sepenuhnya cocok dengan dinamika kelompok, meskipun mereka tetap mampu menjalin hubungan yang baik secara personal.
Baca Juga: Microsoft Teams Luncurkan Fitur Deteksi Bahasa dan Video Recap dengan Bantuan AI
Mengapa Menjadi Otrovert Bisa Menjadi Kekuatan
Menurut Kaminski, rasa “tidak sepenuhnya menjadi bagian dari kelompok” justru bisa menjadi kekuatan. Orang dengan kecenderungan otrovert sering kali memiliki kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, sehingga lebih mudah menghasilkan ide baru dan berpikir kritis.
Karena tidak terikat pada pola pikir kelompok (groupthink), mereka sering dianggap lebih kreatif dan inovatif. Sejumlah tokoh besar seperti Frida Kahlo, Albert Einstein, Franz Kafka, dan George Orwell bahkan disebut memiliki karakteristik serupa.