Gelar pendidikan tidak diutamakan lagi
Kurangnya lowongan entry level bukan hanya soal AI yang mengambilalih peran manusia. Di Selandia Baru dan banyak negara lain, jumlah anak muda yang lulus kuliah terus meningkat.
Artinya, makin banyak orang yang masuk pasar kerja di waktu yang sama, sementara tingkat penambahan lapangan kerja tidak sesuai.
Akibatnya, kualifikasi akademik sendiri tidak menarik lagi di mata perusahaan. Mereka sekarang lebih mengutamakan kandidat yang punya pengalaman praktik, bukan sekadar gelar pendidikan.
Baca Juga: Mengenal Claude: Fitur, Model, dan Keunggulannya yang Bikin Orang Mulai Melupakan ChatGPT
Masalahnya, bagaimana lulusan baru bisa mendapat pengalaman kalau peluang entry‑level makin kecil? Di survei IDC, lebih dari tiga perempat pebisnis di Selandia Baru mengaku khawatir dengan berkurangnya kesempatan belajar di tempat kerja. Sama banyaknya juga yang mengeluhkan minimnya pemahaman soal posisi‑posisi yang terkait AI.
Jadi, yang dihadapi bukan hanya “skills gap”, tapi juga “opportunity gap”. Cara masuk ke dunia kerja itu sendiri makin sempit.
Kalau sudah begini, sepertinya terbukanya lapangan kerja tetap ada di tangan institusi, kebijakan publik, dan perusahaan. Sistem pendidikan dan kebijakan ketenagakerjaan harus lebih kreatif dalam menyediakan program magang bersubsidi, pelatihan berbasis proyek, dan dukungan kewirausahaan muda.