PejuangKantoran.com - Konon, banyak lowongan kerja saat ini yang diprioritaskan untuk fresh graduate, biar perusahaan nggak perlu keluar banyak duit untuk membayar gaji karyawan.
Faktanya, lulusan baru pun belum tentu bisa mendapat pekerjaan pertamanya dengan mudah. Posisi‑posisi entry level yang dulu dijadikan saluran untuk merekrut fresh graduate ternyata makin sulit ditemukan.
Data statistik dari Stats NZ menunjukkan, tingkat pengangguran di Selandia Baru untuk kelompok usia 15–24 tahun ada sekitar 15%, jauh di atas angka rata‑rata tenaga kerja secara keseluruhan.
Baca Juga: 4 Cerita Seru Di Balik Pembuatan 'Para Perasuk', Angga Yunanda Kerepotan Jadi Manusia Silver
Banyak jenis pekerjaan yang biasanya jadi pintu masuk generasi muda, seperti junior office, administrasi, dan tugas‑tugas rutin di kantor, sekarang ini makin menyusut.
Padahal posisi‑posisi itu punya fungsi penting, yaitu sebagai sarana belajar cara kerja organisasi, cara mengambil keputusan, dan cara membangun kemampuan lewat praktik sehari‑hari.
Kalau jalur itu hilang, masalahnya bukan hanya soal angka pengangguran, tapi juga soal bagaimana generasi muda bisa belajar dan tumbuh di dunia kerja.
Rekrutmen melambat
Banyak pemberitaan tentang AI yang mengatakan bahwa kecerdasan buatan sudah mengambil alih pekerjaan manusia. Padahal, AI belum banyak menghapus seluruh profesi, tapi justru mengambil alih tugas‑tugas yang biasanya dilakukan oleh pekerja entry level.
Tugas-tugas tersebut meliputi kewajiban rutin seperti menginput data, mengelola dokumen sederhana, atau menangani email dan formulir.
Baca Juga: Setelah 15 Tahun Menjabat, Tim Cook Resmi Mundur dari Posisi CEO Apple. Siapa Penggantinya?
Survei global terhadap 5.500 organisasi oleh perusahaan analisis pasar IDC menunjukkan, 91% perusahaan melaporkan bahwa AI sudah mengubah atau menggantikan banyak pekerjaan di perusahaan mereka.
Di Selandia Baru, lebih dari separuh perusahaan menyebut bahwa penggunaan AI mendorong pemangkasan atau penghentian sementara rekrutmen karyawan entry level.
Hampir sembilan dari 10 dari perusahaan tersebut juga memperkirakan bahwa rekrutmen jenis pekerjaan pemula ini akan melambat dalam beberapa tahun ke depan. Mengapa?
Karena kebanyakan tugas yang bisa diotomasi sekarang ini justru jenis pekerjaan yang selama ini menjadi sarana pelatihan untuk pekerja muda.
Artikel Terkait
PT StemCord Indonesia Sehat Buka Lowongan Kerja Digital Marketing Specialist, Penempatan di BSD
Women on the Move: Bagaimana Perempuan Membentuk Wajah Baru Industri Travel
20 Ucapan Selamat Hari Kartini 2026 dalam Bahasa Indonesia & Jawa yang Penuh Makna
Kebiasaan 90 Detik yang Bisa “Reset” Pikiran dengan Cepat, Kecil Tapi Efektif
Wisata Kreatif Jakarta Buka Rekrutmen Magang Tim Sosial Media, Ini Detailnya
Mid-Career Drop Lebih Sering Terjadi pada Perempuan. Begini Cara Menanganinya dengan Baik!
Karier Stagnan Bukan Satu-satunya Dampak Karena Internal Mobillity Rate di Perusahaan Rendah. Cek Lainnya!