news

Lebih dari 60% Orang Pakai AI untuk Menjaga Kesehatan Mental karena Faktor Waktu dan Biaya

Kamis, 4 Juni 2026 | 16:27 WIB
Ilustrasi: Menggunakan chatbot AI untuk melakukan self-diagnosis, baik untuk sakit fisik maupun kesehatan mental, sangat tidak disarankan. (Freepik/Stockking/Made with AI)

PejuangKantoran.com - Sejak ada AI, orang jadi cenderung meninggalkan Google search untuk mencari informasi. Bahkan jika sedang sakit pun, orang lebih suka tanya ke chatbot AI untuk mengetahui apa masalahnya, sekaligus mencari tahu apa obatnya. Orang jadi melakukan self-diagnosis, yang sebenarnya sangat nggak disarankan.

Perkara gangguan kesehatan mental juga begitu. Makin banyak orang yang mulai curhat dan mencari solusinya ke chatbot AI. Padahal, mereka sebenarnya ragu dengan saran-saran yang diberikan.

Berdasarkan laporan Mind Health Report tahunan yang dirilis AXA dan lembaga riset IPSOS, lebih dari enam dari 10 orang ternyata pakai AI untuk konsultasi masalah kesehatan mental. Meski begitu, sekitar 45% di antaranya mengaku tidak puas dengan jawaban yang mereka terima.

Baca Juga: Diam saat Meeting Nggak Selalu Berarti Nggak Punya Ide, Ternyata Ada Banyak Penyebab Lainnya

Survei yang melibatkan 19.000 orang dewasa dari 18 negara ini juga menemukan, 68% responden merasa mengalami kecemasan atau depresi, termasuk yang skalanya ringan.

Angka tersebut meningkat drastis hingga 85% pada anak muda berusia 18 sampai 24 tahun. Pada kelompok usia ini, tingkat stres berat bahkan dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata global.

Khaled El Shaarany, Head of Health and Prevention di AXA, fenomena ini terjadi karena masyarakat sekarang ini makin tergantung pada teknologi. 

“Tentu butuh banyak penelitian lagi soal ini. Namun, tidak sulit untuk membayangkan bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dan ketergantungan pada teknologi memicu lebih banyak isolasi dan rasa kesepian pada generasi muda ini,” katanya.

Faktor biaya dan waktu

Rata-rata, orang-orang menghabiskan waktu 5,1 jam per hari buat screen time, di luar urusan kerja atau sekolah. Waktu sepanjang itu berisiko merusak kualitas tidur dan konsentrasi. 

Baca Juga: Kategori Bahasa yang Paling Susah Dipelajari Penutur Bahasa Inggris, Indonesia Kategori Mana?

“Orang-orang mengakui bahwa screen time memengaruhi banyak aspek kehidupan mereka, dan lebih dari sepertiga responden menyebut hal ini meningkatkan isolasi sosial,” ujar Sophie Morin dari IPSOS.

Selain itu, ada faktor biaya dan waktu yang sering jadi hambatan untuk pergi ke psikolog atau dokter. Alasan inilah yang bikin mereka lari ke aplikasi AI gratis dan melakukan self diagnosis tanpa pemeriksaan fisik.

Sebanyak 63% responden bahkan memakai AI untuk mencari jawaban seputar kesehatan mental mereka. Bahkan, ada 38% orang yang mengaku lebih percaya AI ketimbang nakes profesional.

Tapi El Shaarany mengingatkan agar kita nggak langsung nge-judge AI itu selalu salah. 

Halaman:

Tags

Terkini