news

Lebih dari 60% Orang Pakai AI untuk Menjaga Kesehatan Mental karena Faktor Waktu dan Biaya

Kamis, 4 Juni 2026 | 16:27 WIB
Ilustrasi: Menggunakan chatbot AI untuk melakukan self-diagnosis, baik untuk sakit fisik maupun kesehatan mental, sangat tidak disarankan. (Freepik/Stockking/Made with AI)

“Kita perlu menegaskan bahwa AI itu tersedia 24 jam, gratis, dan bisa diakses di ponsel saat kita sendirian jam 11 malam atau jam 1 pagi di kamar, dan merasa tidak baik-baik saja,” tukasnya.

Di momen-momen sendiri seperti itu, kehadiran chatbot AI untuk diajak berinteraksi memang nolong banget. Masalahnya, menggunakan AI secara umum sama saja kayak ngobrol dengan teman biasa, bukan dengan dokter spesialis.

Baca Juga: Mahasiswa Indonesia yang Studi di Selandia Baru Bisa Apply Visa Kerja 6 Bulan sambil Mencari Pekerjaan

“Bayangkan kamu seorang remaja yang sedang cemas, jantungmu berdebar, lalu kamu bertanya ke AI. Jawabannya bisa berupa daftar 20 kemungkinan penyebab, dan beberapa di antaranya sangat serius.

"Itu tidak akan meredakan kecemasanmu, meskipun informasinya secara ilmiah akurat,” paparnya lagi.

Makanya, ke depannya platform AI harus dirancang dengan sistem batasan yang lebih ketat. AI harus bisa mengenali tanda-tanda bahaya pada pengguna, biar bisa langsung mengarahkan mereka ke dokter atau psikolog yang asli untuk mencegah self diagnosis yang bisa menyesatkan.

Halaman:

Tags

Terkini