news

1 dari 5 Lulusan Baru Melamar Lebih dari 100 Lowongan Kerja, Bukti Kecemasan yang Meningkat!

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:57 WIB
Ilustrasi: Survei membuktikan, satu dari lima lulusan baru mengirim lebih dari 100 lamaran kerja. (Freepik/Rawpixel.com)

PejuangKantoran.com - Mencari pekerjaan pertama setelah lulus kuliah memang tidak pernah mudah, tapi belakangan ini tantangannya makin berat. Bayangin aja, saking ketatnya persaingan, sekarang ada satu dari lima lulusan baru yang mengaku sudah melamar ke lebih dari 100 lowongan kerja.

Fenomena ini memperlihatkan betapa tingginya kecemasan para pencari kerja baru di tengah situasi ekonomi yang sedang kurang bergairah.

Berdasarkan data terbaru dari Higher Education Statistics Agency (HESA), jumlah lulusan yang mendapatkan pekerjaan penuh waktu setelah 15 bulan lulus memang mengalami penurunan. Angkanya merosot dari 59% di tahun sebelumnya menjadi 57%.

Baca Juga: Tersentuh dengan Filmnya, Rizky Febian Gubah Ulang Lagu Ciptaannya untuk OST 'Jangan Buang Ibu'

Di sisi lain, angka pengangguran di kalangan lulusan baru juga naik dari 6% ke 7%. Meski begitu, buat mereka yang sudah bekerja, mayoritas (sekitar 75%) berhasil masuk ke sektor pekerjaan yang butuh keahlian tinggi, terutama lulusan sains yang persentasenya mencapai 81%. 

Selain itu, kalau dilihat dari gender, laki-laki cenderung lebih nekat mengirim lamaran sebanyak-banyaknya. Sekitar 33% laki-laki pilih asal tabrak dengan melamar ke sebanyak mungkin tempat. Bandingkan dengan hanya sekitar 26% perempuan yang memakai cara ini.

Secara keseluruhan, jumlah lulusan yang mengirim lamaran dalam jumlah yang masif ini melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Doom loop yang meningkat

Maraknya fenomena sebar ratusan CV ini berkaitan erat dengan tren penggunaan AI. Banyak lulusan baru yang menggunakan AI untuk membuat CV dan surat lamaran agar bisa mendaftar ke banyak tempat sekaligus dengan cepat.

Dari survei terhadap mereka yang melamar ke 101 hingga 200 lowongan, sekitar 66% di antaranya mengaku dibantu oleh AI. Secara total, hampir 73% pelamar kerja pernah menggunakan teknologi ini.

Baca Juga: Survei: Anak Muda Sekarang Nggak Akan Mandiri Secara Finansial sampai Usia 26 Tahun

Ironisnya, meski mereka memakai AI untuk memudahkan proses mencari pekerjaan, sekitar 44% lulusan justru merasa masa depan karier mereka terancam oleh kehadiran AI itu sendiri. 

"Ada semacam lingkaran setan kecemasan (doom loop) yang terus membesar, di mana para kandidat menggunakan AI untuk membantu mereka mencari kerja, tapi di saat yang sama, mereka juga merasa terancam oleh dampak dari teknologi tersebut.

"Temuan ini membuktikan kalau rasa percaya diri di dunia digital tidak bisa dianggap remeh begitu saja, bahkan di kalangan generasi muda sekalipun," ujar .Chris Rea, pakar karier dari Prospects di Jisc.

Menurutnya, kampus perlu menyiapkan mahasiswa dalam mengembangkan keahlian AI yang profesional agar mereka tetap optimis saat menghadapi pasar kerja yang berubah begitu cepat.

Halaman:

Tags

Terkini