Di sisi lain, pihak HESA mengingatkan agar kita tidak langsung panik dan menyalahkan AI atas lesunya pasar kerja. Menurut mereka, narasi bahwa AI telah merusak lowongan kerja bagi sarjana tidaklah sepenuhnya benar.
Namun Charlie Ball, Kepala Intelijen Pasar Kerja di HESA, menilai situasi pasar kerja saat ini lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang sedang lesu. Sementara itu, pemberi kerja juga merasakan ketidakpastian dan kurang percaya diri dengan prospek ekonomi saat ini.
"Pasar kerja untuk lulusan sarjana tidak hancur berantakan. Ini hanya proses adaptasi terhadap lingkungan ekonomi yang berjalan lebih lambat dan lebih terbatas," jelasnya.
Dengan kata lain, lulusan baru perlu memahami bahwa, in this economy, strategi mengirim lamaran kerja sudah berubah. Di tengah ekonomi yang melambat, kuncinya bukan sekadar seberapa banyak CV yang disebar pakai AI, melainkan bagaimana melakukan upskilling agar tetap relevan di mata industri.
Artikel Terkait
Ditunjuk Jadi Country General Manager Microsoft Indonesia, Gunawan Susanto Bukan Orang Baru di Teknologi
Orang yang Baca Review Berulangkali Sebelum Membeli Barang Bukan Berarti Kelamaan Mikir
Setelah 144 Tahun, Sagrada Familia Akhirnya Mencapai Tonggak Bersejarah
5 Fakta Unik Kelolosan Meksiko ke 32 Besar Piala Dunia 2026: Tuah Guadalajara hingga "Kutukan" Babak Gugur
Tetap Semangat Gen Z! Kini Kita Punya Masa Tunggu 19,8 Bulan Setelah Lulus Sebelum Mendapat Pekerjaan Pertama Kita
Qatar Kena Batunya, Drama Guling-Guling yang Sirna! Qatar Dihancurkan Fisik Kanada
Nggak Ada Waktu Jangan Halangi Niat Olahraga Jangan Malas Berolahraga, Kenalan sama Micro-Workouts, Tren Olahraga Kilat 5 Menit