PejuangKantoran.com - Era konten AI membuat sebagian orang merasa jenuh, dan kembali membaca buku-buku fisik. Sayangnya, niat baik ini bakalan bikin mereka (mungkin termasuk kamu) kamu mikir-mikir lagi. Mengapa?
Perusahaan-perusahaan AI ternyata lagi ramai-ramai memburu buku antik dan langka untuk dijadikan bahan latihan model mereka. Setelah isinya diserap, bukunya dihancurkan!
Buat perusahaan pengembang model bahasa besar (large language model/LLM), buku merupakan salah satu sumber utama untuk melatih AI. Sebagian perusahaan menggunakan buku digital untuk kebutuhan tersebut, bahkan Meta memakai versi bajakan dan bikin karyawan resah soal risiko pelanggaran hak cipta.
Baca Juga: Perusahaan Layanan Alih Daya di Concentrix Buka Lowongan Kerja Sr. Team Leader, Operations
Sedangkan Anthropic membeli jutaan buku fisik bekas karena harganya jauh lebih murah. Kemudian perusahaan ini memakai mesin pemotong hidrolik untuk memisahkan halaman demi halaman dari sampulnya, lalu memindai tiap halaman dengan alat pemindai kelas industri.
Isi buku itu lalu diubah jadi data digital, sementara sisa buku fisik yang sudah tak terpakai setelah dipotong-potong itu dibuang.
Praktik ini sebenarnya dianggap sah secara hukum lewat konsep first-sale doctrine. Ibarat kita membeli buku, kita bebas melakukan apa pun terhadap barang yang sudah kita beli tanpa perlu minta izin si pemegang hak cipta.
Namun, Anthropic ternyata juga mengakses salinan buku bajakan dari situs seperti LibGen dan PiLiMi untuk membangun perpustakaan pelatihan AI. Akibatnya, Anthropic menerima gugatan kelompok (class action) dari tiga penulis dan harus membayar denda 1,5 miliar dollar.
Karena buku fisiknya diubah jadi salinan digital dan bukan disebarluaskan ulang, seorang hakim menganggap ini merupakan proses transformatif, sehingga masuk kategori fair use. Namun memakai buku bajakan untuk melatih AI tetap dianggap pelanggaran hak cipta.
Penjual buku ikutan untung
Baca Juga: Fokus Hindari Cedera, Jurus Kurniawan Dwi Yulianto Rekrut Tim Indonesia All Star Lawan Aston Villa
Sekarang, praktik ini makin marak sehingga para penjual buku ikut-ikutan mencari keuntungan. Salah satunya ISBNdb, yang mengklaim punya database buku terbesar di dunia. Secara terang-terangan mereka bilang, data untuk melatih AI terbaik itu justru berasal dari buku.
Alasannya, buku cetakan sebelum era model bahasa besar dianggap masih bersih dari kontaminasi tulisan hasil AI yang sudah mulai terdeteksi di buku-buku baru.
ISBNdb sekarang melayani pembelian buku dalam jumlah besar, dari seribu sampai satu juta buku per pesanan, khusus untuk perusahaan AI. Mereka juga berjanji untuk menjaga kerahasiaan pembelinya.
Di situs mereka sendiri bahkan muncul headline seperti "perusahaan AI menghancurkan dua juta buku". Ini sih, cari perkara namanya!