news

Turki Melarang PHK dan Memberikan Dukungan Gaji di Zona Gempa untuk Melindungi Pekerja yang Jadi Korban

Rabu, 22 Februari 2023 | 21:40 WIB
Ilustrasi: Gempa di Turki dan Suriah membuat ekonomi lumpuh. Pemerintah pun melarang PHK untuk melindungi karyawan yang terdampak. (Pexels.com/Алесь Усцінаў)

PejuangKantoran.com - Gempa di Turki dan Suriah pada Senin (6/2/2023) telah menimbulkan kerusakan berat di berbagai wilayah. Akibat gempa tersebut, kehidupan ekonomi lumpuh. Orang-orang tidak bisa bekerja, dan kantor-kantor pun tidak dapat beroperasi lagi.

Untuk itu, Turki meluncurkan skema dukungan upah sementara, dan melarang PHK di 10 kota pada Rabu (22/2/2023). Pemerintah berupaya melindungi pekerja dan bisnis dari dampak keuangan akibat gempa besar yang melanda bagian selatan negara tersebut.

Langkah tersebut merupakan bagian dari tindakan pemerintah untuk meminimalkan dampak ekonomi dari gempa terburuk Turki dalam sejarah modern, yang menyebabkan puluhan ribu orang tewas.

Baca Juga: Breaking News : 20 Februari - Turki dan Suriah Kembali Dilanda Gempa, Kali Ini Berkekuatan 6,3!

Pemilik perusahaan yang tempat kerjanya "rusak berat atau sedang" akan mendapat manfaat dari dukungan tersebut untuk menutupi sebagian upah pekerja yang jam kerjanya telah dipotong, kata Officia Gazette, Rabu.

Larangan PHK juga diumumkan di 10 provinsi yang dilanda gempa.

Parlemen Turki memberlakukan keadaan darurat selama tiga bulan pada 7 Februari, sesuai permintaan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sebelumnya, pemerintah juga menawarkan dukungan gaji dan memberlakukan larangan PHK pada tahun 2020 dalam upaya mengurangi pukulan ekonomi akibat COVID-19.

Kelompok bisnis dan ekonom mengatakan, gempa bumi seperti sekarang akan membuat kota Ankara membutuhkan biaya hingga 100 miliar dollar untuk membangun kembali perumahan dan infrastruktur yang porak poranda.

Baca Juga: Dua WNI Hilang Kontak Pasca Gempa Turki, Ditemukan Meninggal di Diyarbakir

Gempa bumi di Turki dan Suriah berkekuatan 7,8 pada 6 Februari lalu telah menewaskan lebih dari 47.000 orang. Selain itu juga merusak atau menghancurkan ratusan ribu bangunan di Turki dan Suriah dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

Di Turki, saat ini 865.000 orang tinggal di tenda dan 23.500 di peti kemas, sementara 376.000 orang tinggal di asrama mahasiswa dan penginapan umum di luar zona gempa, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (21/2/2023).

Erdogan sudah menjanjikan upaya rekonstruksi yang cepat, meskipun para ahli mengatakan hal itu bisa memicu bencana lain jika langkah-langkah keselamatan dikorbankan dalam perlombaan untuk membangun kembali.

Enam orang tewas dalam gempa terbaru yang melanda wilayah perbatasan Turki dan Suriah, kata pihak berwenang pada Selasa. Setelah itu terjadi 90 gempa susulan, kata Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD), sehingga menambah trauma baru bagi warga Antakya yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa sebelumnya.

Erdogan sudah berkuasa selama dua dekade, dan menghadapi pemilihan presiden dan parlemen pada Mei. Namun, bencana ini bisa menyebabkan penundaan pemungutan suara.

Halaman:

Tags

Terkini