news

Hanya 1 dari 10 Karyawan di Tempat Kerja yang Menyampaikan Masalah Kesehatan Mental pada Atasan

Senin, 9 Januari 2023 | 17:30 WIB
Ilustrasi: Stigma kesehatan mental membuat karyawan enggan terbuka dengan masalah kesehatan mental di tempat kerja. (Pexels/Monstera)

PejuangKantoran.com - Bagi sebagian karyawan, masalah kesehatan mental ternyata bukan sesuatu yang nyaman untuk dibicarakan. Jika pun harus meminta izin atasan untuk tidak bekerja karena keluhan kesehatan mentalnya, mereka memilih untuk menggunakan alasan lain.

Terbukti, hanya satu dari sepuluh karyawan yang memberi tahu atasan tentang pergumulan mereka dengan kesehatan mental, demikian menurut jajak pendapat oleh aplikasi kesejahteraan Wysa terhadap 1.000 pekerja penuh waktu.

Satu dari empat orang akan mengajukan izin sakit dengan alasan penyakit fisik, padahal sebenarnya kesehatan mental mereka lah yang jadi masalah. Kemudian satu dari lima karyawan lainnya mengaku mending mengambil cuti liburan daripada mengakui sedang mengalami kesulitan.

Baca Juga: Jangan Lupa Perhatikan Kesehatan Mental! Ini Ciri-ciri Orang Punya Masalah Mental

Satu dari empat orang Inggris mengalami masalah kesehatan mental, dan mereka yang berusia di bawah 24 tahun kemungkinannya mengalami masalah kesehatan mental dua kali lebih besar daripada karyawan yang lebih tua.

Hanya satu dari 10 karyawan yang akan memberitahu atasannya tentang perjuangan mereka dengan masalah kesehatan mental yang sedang mereka alami. 

Ada alasan tertentu mengapa karyawan enggan membicarakan masalah kesehatan mentalnya. Masih ada stigma kesehatan mental yang menjadi penghalang bagi karyawan untuk berbicara secara terbuka tentang kondisinya, dan perawatan apa yang sedang dijalani. 

Beberapa alasan karyawan tidak ingin mengungkapkan masalah kesehatan mentalnya, termasuk:

  • Takut kehilangan pekerjaan atau kehilangan kesempatan untuk dipromosikan.
  • Khawatir rekan kerja dan atasan menghakimi mereka. 
  • Risiko terjadi salah paham.
  • Tidak ingin terlihat diperlakukan berbeda.
  • Pernah menyaksikan pelecehan atau intimidasi terhadap orang lain yang berbicara tentang kesehatan mental.

Nicky Main, konsultan psikologi klinis di Wysa, mengatakan bahwa perusahaan harus melakukan upaya khusus memperlakukan kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik agar karyawan nyaman saat menyampaikan kebutuhan mereka. 

Baca Juga: Jadilah Pendengar yang Baik dan Tak Judgemental Kalau Teman Kamu Curhat Soal Kesehatan Mentalnya!

Masalahnya, karyawan sering merasa serba salah jika tidak berbicara tentang kesehatan mental. Jika mereka tidak bisa cuti untuk janji temu terapi, mereka mungkin menunda mencari pengobatan. Karyawan yang merasa disalahpahami bisa merasa terisolasi, dan hubungan dengan rekan kerja bisa terganggu.

Meskipun ada banyak hal positif jika karyawan terbuka untuk membicarakan masalah kesehatan mentalnya di tempat kerja, dampaknya bisa sulit dinavigasikan —terutama bagi yang baru bergabung di perusahaan atau baru memulai karier. 

Jadi, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk mengungkapkannya jika kamu belum siap. Kalau kamu merasa lebih banyak kerugian daripada keuntungan, atau membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengambil keputusan, jangan memaksakannya (dan bersabarlah sampai kamu siap melakukannya

Tags

Terkini