PejuangKantoran.com - Di industri teknologi, tahun baru dimulai dengan awal yang menyedihkan. Pada 4 Januari, Amazon mengumumkan akan memberhentikan 18.000 karyawan, atau 6% dari karyawannya.
Microsoft mengikutinya dengan memberhentikan 5% stafnya, dan kemudian Alphabet memberhentikan 6% karyawannya.
Sejak saat itu, tren perampingan terus berlanjut, di mana Okta, Spotify, perusahaan software bisnis HubSpot, perusahaan keamanan siber NCC Group, dan PayPal, semuanya mengumumkan PHK massal.
Menurut pengamatan James Surowiecki, penulis buku The Wisdom of Crowds, semua perusahaan ini mengumumkan PHK antara 5-7% dari tenaga kerja mereka.
Baca Juga: Terlalu Agresif dalam Mengejar Bisnis Streaming Video, Kini Disney PHK 7000 Karyawan
Keputusan perusahaan teknologi untuk mengurangi karyawan sebenarnya tidak mengejutkan. Industri ini memulai perekrutan besar-besaran selama pandemi, namun perlambatan pasar periklanan digital menjadikan efisiensi sebagai landasan untuk me-layoff karyawan.
Keputusan tersebut masih ditambah dengan kecemasan tentang kemungkinan resesi, serta pukulan besar pada harga saham perusahaan teknologi tahun lalu.
Yang menarik adalah, kenyataan bahwa begitu banyak dari CEO perusahaan tersebut yang memutuskan untuk mem-layoff sekitar 6% dari karyawannya.
Padahal, meskipun perusahaan-perusahaan ini memiliki kesamaan, bisnis dasar mereka sangat berbeda, dan laporan laba rugi serta neraca mereka tidak terlihat sama.
Jadi, kalau PHK merupakan perhitungan yang hati-hati oleh para CEO tentang jumlah pekerja yang mereka butuhkan untuk mengoptimalkan nilai perusahaan mereka, mengapa mereka semua sampai pada kesimpulan yang kurang lebih sama?
Salah satu kemungkinannya, lanjut Surowiecki, para CEO teknologi tersebut saling memperhatikan satu sama lain, khususnya kepada para pemain terpenting dalam industri ini. Mereka juga menerima isyarat dari satu sama lain.
Baca Juga: Zoom Mem-PHK 1.300 Karyawan, CEO Eric Yuan Putuskan Memotong Gajinya Hingga 98%
Lonjakan PHK terhadap 6% karyawan merupakan produk dari apa yang disebut profesor Stanford Jeffrey Pfeffer sebagai "social contagion" (penularan sosial).
Perusahaan teknologi memutuskan dalam beberapa bulan terakhir bahwa sekitar 6% dari karyawan mereka melebihi persyaratan.
Ini bukan fenomena baru. Penelitian dari Department of Sociology, McMaster University yang diterbitkan dalam jurnal Sociological Forum (2000) tentang munculnya perampingan pada 1980-an, menunjukkan bahwa mengikuti tren akan membantu menjelaskan alasan perusahaan memangkas gaji karyawannya.