Cap Go Meh, Klimaks dari Perayaan Tahun Baru Imlek yang Juga Merupakan Peristiwa Besar

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 3 Februari 2023 | 10:39 WIB
Ilustrasi: Perayaan Cap Go Meh juga dimeraihkan dengan Festival Lampion. (Freepik/Rawpixel)
Ilustrasi: Perayaan Cap Go Meh juga dimeraihkan dengan Festival Lampion. (Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.comTahun Baru Imlek menandai dimulainya awal yang baru bagi orang Tionghoa. Bagi beberapa keluarga, ini satu-satunya waktu dalam setahun di mana semua anggota keluarga memiliki kesempatan untuk bertemu dan makan malam.

Tahun Baru Imlek dirayakan antara 21 Januari dan 20 Februari, dan acara ini berlangsung selama 15 hari. Setelah itu, semuanya akan berakhir.

Tahun ini Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 22 Januari, sehingga berakhir pada 5 Februari 2023 yang kita sebut sebagai Cap Go Meh. Namun, Cap Go Meh yang merupakan klimaks dari Festival Musim Semi juga merupakan peristiwa besar.

Baca Juga: Tahun Baru Imlek 2023 Akan Dirayakan oleh 2 Milyar Penduduk Dunia

Masyarakat Tionghoa akan merayakan Yuan Xiao Jie (Festival Lampion), atau Cap Go Meh, istilah Hokkian untuk malam ke-15 tahun baru. Festival ini dianggap penting karena menandai berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.

Cap Go Meh dirayakan secara meriah di Malaysia, Indonesia, Singapura, dan lain-lain. Festival ini memiliki makna sejarah yang besar dan dianggap setara dengan Hari Valentine bagi warga Tionghoa.

Bagaimana sebenarnya asal-muasal dan sejarah Cap Go Meh?

Ada beberapa keyakinan mengenai sejarah Cap Go Meh. Salah satunya tentang Kaisar Giok, tokoh sentral rakyat Tiongkok yang berencana menghancurkan desa pada hari ke-15 tahun lunar. Sebab, beberapa penduduk desa membunuh burung bangau kesayangannya.

Mendengar hal ini, salah satu putri kesayangannya diam-diam memperingatkan penduduk desa tentang bencana yang akan datang.

Untuk menghindari kemarahan Kaisar, penduduk desa menggantung lentera merah dan menyalakan petasan agar terlihat seolah rumah mereka sudah terbakar.

Baca Juga: Promedia Gelar Seminar Transformasi Jurnalis Jadi Pengusaha Media Digital

Kaisar pun mengurungkan niat menghancurkan desa dengan perasaan puas. Sejak itu orang-orang merayakan hari ke-15 tahun lunar dengan lentera dan petasan.

Keyakinan lainnya adalah tentang legenda perempuan yang mencari cinta, yang membuat Cap Go Meh sering dianggap sebagai Hari Valentine bagi masyarakat Tionghoa.

Dulu, perempuan yang belum menikah hanya diperbolehkan keluar pada hari terakhir perayaan tahun baru. Mereka lalu menuliskan nama dan nomor telepon mereka pada jeruk mandarin, dan melemparkannya ke sungai.

Hal itu dilakukan dengan keyakinan bahwa seorang pria akan mencoba menangkap jeruk dan melakukan kontak dengan mereka, sehingga para perempuan itu akan menemukan calon suami yang baik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Tatler Asia, Tourism.gov.my

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X