Ini Penyebab Orang yang Ditagih Utang Lebih Galak Menurut Psikiater IPB University

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 4 Februari 2026 | 18:35 WIB
Ketika ditagih utang orang lebih galak, ternyata bukan masalah sikap dan perilaku personal, malah wajar kata psikiater IPB. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ketika ditagih utang orang lebih galak, ternyata bukan masalah sikap dan perilaku personal, malah wajar kata psikiater IPB. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.comUtang-piutang atau pinjam uang adalah perkara yang termasuk sering dijumpai di kehidupan sehari-hari. Mulai dari yang jumlah kecil untuk membayar secangkir kopi hingga jumlahnya yang fantastis untuk kebutuhan usaha.

Meskipun berbeda nilai, namun terkadang masalah menjadi pelik ketika urusan tagih-menagih. Untuk yang jumlah kecil, seperti contoh di atas, kadang antara pemberi utang yang diberi utang lupa.

Kalaupun ingat, pemberi utang merasa tidak nyaman untuk menagih karena jumlahnya relatif kecil.

Yang jadi perkara rumit ketika jumlahnya cukup besar baik bagi pemberi utang maupun peminjam utang. Proses tagih-menagih kadang bisa berujung pada putusnya pertemanan atau persaudaraan, berawal dari (umumnya) peminjam yang lebih galak daripada pemberi pinjaman.

Baru-baru ini, psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc mengungkap mengapa orang lebih galak saat ditagih utang (ipb.ac.id – 03/02/2026).

Dr Riati menyampaikan bahwa respon lebih galak itu berkaitan erat dengan stres finansial dan ancaman terhadap harga diri si peminjam.

Baca Juga: Bijakkah Menggunakan Pinjaman tanpa Agunan untuk Melunasi Utang Kartu Kredit?

Ini dikarenakan penagihan utang dapat memicu tekanan berat yang bisa mengikis kemampuan seseorang dalam mengelola emosi.

“Stres finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kemampuan koping dan kontrol emosi menurun,” imbuh dr Riati.

Tekanan tersebut secara biologis akan mengaktifkan amigdala. Ini adalah bagian otak yang berperan sebagai pusat deteksi ancaman.

Tak hanya itu, tekanan tersebut juga melemahkan fungsi prefrontal cortex yang bertanggung jawab terhadap penilaian rasional dan regulasi emosi. Alhasil, menurut dr Riati, kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or fight.

Dengan kondisi ini tak heran jika respons yang muncul cenderung agresif dan defensif, bukan efektif. Jadi, respons galak seseorang yang ditagih utang bukanlah semata-mata perilaku dan sikap personal.

Dr Riati juga menegaskan, respons seperti ini tidak serta merta menandakan seseorang mengalami gangguan jiwa dan dalam banyak kasus itu adalah reaksi wajar seseorang saat sedang tertekan.

Yang Harus Dilakukan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: ipb.ac.id, Berbagai Sumber, ocbc.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X