Pejuangkantoran.com – Cukup sering kita mendengar kalimat yang intinya kurang lebih begini “Kalau orang baru kerja atau first jobber, harus irit. Beli barang tidak usah yang mahal-mahal, toh banyak barang yang fungsinya sama tapi lebih murah harganya. Mending uangnya ditabung!”
Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah, namun juga tak sepenuhnya benar. Ini bukan perkara membeli barang yang lebih murah atau lebih mahal.
Dalam megelola keuangan ada teori Sam Vimes Boots Theory of Economic Injustice. Ini adalah konsep ekonomi fiksi yang diperkenalkan oleh penulis Inggris Terry Pratchet dalam novel Men at Arms (1993).
Intinya, dalam novel ini, melalui karakter Sam Vimes, Pratchett ingin menyampaikan bagaimana kemiskinan memaksa orang miskin mengeluarkan lebih banyak uang dalam jangka panjang dibanding orang kaya.
Ilustrasinya begini, si A membeli sepatu kulit asli seharga Rp2 juta dengan kualitas yang baik sehingga awet dan bisa dipakai bertahun-tahun. Sementara si B, membeli sepatu kulit sintetis seharga Rp200 ribu namun cepat rusak sehingga ia harus membeli lagi sepatu lebih sering.
Konsep ini kini dikenal luas sebagai metafora populer untuk menjelaskan “kemiskinan yang mahal.” Dalam praktikal sehari-hari bagi first jobber, perlu taktik tersendiri agar tidak terjebak dalam konsep ini.
Baca Juga: Panduan Bagi First Jobber Apakah Dia Sudah Bekerja di Perusahaan yang Tepat Atau Belum
Biasanya bagi first jobber, begitu merasa punya gaji sendiri lalu ingin beli ini-itu yang sebelumnya tidak bisa terbeli. Ini bukan hal yang salah. Yang harus dipahami dan diterapkan adalah bagaimana kamu mengatur cash flow secara strategis.
Tidak selalu kamu harus irit, karena terkadang kamu harus menginvestasikan sesuatu yang penting untuk jangka panjang.
Berikut ini poin-poin penting bagi first jobber untk menghindari jebakan Sam Vimes Boots Theory of Economic Injsutice:
- Prioritaskan “barang kritis”, bukan semua barang
Tidak semua hal perlu kualitas tinggi. Fokus pada kategori yang kalau salah pilih akan mahal di belakang.
Barang yang wajib kualitas baik (durable goods), umumnya terkait sebagai alat kerja, misal laptop/ponsel untuk produktivitas atau sepatu yang digunakan kerja sehari-hari.
Atau bisa juga yang terkait dengan kesehatan yang bisa berpengaruh pada performa kerja. Misal kasur yang dipakai untuk istirahat/tidur.
Sementara yang bisa atau boleh kamu hemat adalah yang sifatnya non-esensial, misal aksesoris atau pakaian yang bersifat style, gadget sekunder, dan lifestyle (nongkrong, ngopi cantk, dan sebagainya).
Artikel Terkait
Generasi Z First Jobber atau Pekerja Pertama, Generasi Incaran Marketing Produk Perusahaan
Pembeli Diuntungkan Lewat Live Shopping. Namun Hati-Hati, Hindari Kena Tipu Dengan Mengikuti Tips Berikut Ini
2 Langkah untuk Mulai Menabung Dana Darurat, Mulai Saja Sedikit-sedikit tetapi Konsisten
Kenali Pilihan Investasi Reksa Dana dan Obligasi di PermataBank untuk Masa Depan Finansial yang Lebih Terencana
Masih Ada Sisa THR? Lebih Baik buat Investasi Emas, Begini Tips Beli Emas buat Pemula
Tenaga Kerja Kontrak Sebaiknya Menjalani Roadmap Finansial yang Dirancang untuk Waktu 1 - 3 Tahun Ini