PejuangKantoran.com - Generasi muda, terutama Gen Z, kini semakin mengandalkan layanan “Buy Now, Pay Later” (BNPL) sebagai metode pembayaran yang fleksibel, apalagi selama musim liburan.
Di Amerika Serikat, BNPL banyak digunakan karena membantu konsumen menghadapi dampak inflasi dan tingginya utang kartu kredit.
Menurut Adobe Analytics, pengeluaran melalui BNPL di Amerika Serikat (AS) diperkirakan meningkat sebesar 11,4% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total belanja mencapai $18,5 miliar atau sekitar Rp280 triliun antara 1 November – 31 Desember 2024.
Baca Juga: Beasiswa Patriot dari Kementrans dan LPDP, Wajib Ikut Pendidikan Militer dan Balik ke Indonesia
Tidak hanya di AS, penggunaan BNPL juga terus meningkat di Indonesia. Namun, sama-sama terjadi terutama di kalangan generasi muda.
Data menunjukkan bahwa 32,5% pengguna BNPL di Indonesia berasal dari generasi milenial, diikuti oleh 27,3% dari generasi Z, dan 25,8% dari generasi X.
Keuntungan dan risiko BNPL
Layanan Buy Now, Pay Later menjadi strategi efektif bisnis untuk meningkatkan daya beli konsumen.
Penelitian Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa konsumen menghabiskan 20% lebih banyak dengan BNPL karena merasa cicilan lebih ringan dibanding pembayaran tunai.
Selain itu, proses pendaftaran BNPL yang sederhana menjadi keuntungan lain. Konsumen cukup menghubungkan akun bank atau kartu debit, lalu menyetujui pembayaran cicilan dalam jangka waktu tertentu.
Baca Juga: Desa Batuan Sukawati, Destinasi Desa Wisata di Gianyar Bali dengan Potensi di Bidang Kesenian
Selain itu, banyak layanan Buy Now, Pay Later menawarkan bunga rendah atau bahkan tanpa bunga, tergantung kebijakan penyedia.
Di AS, platform BNPL seperti Klarna, Afterpay, dan Affirm telah menjadi pilihan umum generasi muda, terutama bagi mereka yang belum memiliki riwayat kredit.
Sementara itu, di Indonesia ada platform lokal seperti Kredivo, Akulaku, dan Shopee PayLater yang memfasilitasi kebutuhan konsumen dengan fleksibilitas pembayaran serupa.
Namun, kemudahan ini juga membawa risiko. Para ahli memperingatkan, konsumen yang membayar cicilan BNPL dengan kartu kredit berisiko terjebak bunga dan denda utang kartu kredit.