Dikemas sebagai Komedi Romantis, Jodoh 3 Bujang Angkat Tradisi Nikah Kembar di Bugis Makassar

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Senin, 23 Juni 2025 | 10:20 WIB
Film komedi romantis Jodoh 3 Bujang mengangkat tema tradisi pernikahan kembar yang sering terjadi pada masyarakat Bugis Makassar. (Starvision)
Film komedi romantis Jodoh 3 Bujang mengangkat tema tradisi pernikahan kembar yang sering terjadi pada masyarakat Bugis Makassar. (Starvision)

PejuangKantoran.com - Setelah sukses dengan film Komang, Starvision kembali mengangkat cerita yang mengambil latar dari salah satu budaya di Makassar.

Film Jodoh 3 Bujang mengangkat budaya dalam keluarga Bugis-Makassar yang menyangkut tradisi nikah kembar dan uang panai. Berkolaborasi dengan Rhaya Flicks, film ini menyoroti kisah komedi romantis dengan irisan isu cinta beda status sosial.

“Nikah kembar adalah prosesi pernikahan menyikapi biaya nikah di Makassar yang semakin tinggi. Sementara dua generasi ini (ayah dan anak) berada dalam tekanan ekonomi yang sama.

Baca Juga: Jawaban Masuk Akal saat Rekruter Bertanya Alasan Kamu Resign dari Pekerjaan Sebelumnya

"Nikah kembar itu bisa dilakukan berdua, bertiga dan seterusnya dalam lingkup keluarga besar (tidak hanya antara kakak beradik). Intinya, ada keinginan berbagi kebahagiaan bersama.

"Sebenarnya, kalau ada salah satu yang tidak jadi tidak menjadi masalah. Cuma dalam kasus ini dan dalam kisah nyatanya, halnya berubah. Tidak lagi dari persoalan nikah kembar atau uang panai saja.

"Tapi, sudah menyangkut harga diri. Nah, kalau sudah persoalan harga diri, orang Bugis Makassar tidak ada kompromi!” terang sutradara Arfan Sabran saat pemutaran perdana Jodoh 3 Bujang di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (19/06/2025).

Jodoh 3 Bujang diangkat dari kisah nyata, yang menceritakan tiga bujang bersaudara, Fadly (Jourdy Pranata), Kifly (Christoffer Nelwan), dan Ahmad (Rey Bong). Karena keterbatasan biaya dalam memenuhi tradisi, orangtua mereka meminta ketiganya untuk nikah kembar. 

Malangnya, keluarga kekasih Fadly, Nisa (Maizura) tidak menerima uang panai yang ditawarkan keluarga Fadly karena dianggap kecil.

Mendapat penolakan seperti ini, ayah Fadly (Arswendi Bening Swara) merasa harga dirinya direndahkan dan mengultimatum Fadly untuk memutus hubungan dengan Nisa.

Baca Juga: Transaksi Naik Drastis, Merchant BRI Kebanjiran Hadiah dari Voucher Belanja sampai Mobil Listrik!

Demi menghormati orang tua dan tradisi, Fadly harus menemukan jodoh penggantinya di waktu singkat atau tradisi nikah kembar terancam batal.

Sementara kedua adiknya yang sudah memasukan lamaran pada pasangannya masing-masing juga mulai resah menunggu penetapan tanggal pernikahan.

“Film ini tentang perjuangan. Bahwa tidak ada hal yang mustahil apabila kita mau melakukan perubahan dari diri sendiri. Melalui film ini, kita juga ingin berbagi kehangatan, berbagi rasa bagaimana keluarga itu indah dan banyak romantikanya.

"Film ini juga merupakan sebuah cerminan kisah lokal yang indah. Mengangkat sinema lokal menjadi mewah. Dan, semoga film ini jadi doa bagi mereka yang jomblo biar cepat mendapatkan jodohnya,” ujar produser Chand Parwez.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X