Kamu Yang Rutin Latihan Tiba-Tiba Tak Punya Daya Dan Buruknya Performa? Waspada Overtraining Syndrome!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Minggu, 22 Juni 2025 | 14:59 WIB
Ketika kamu yang rajin dan urtin latihan, tiba-tiba mengalami rasa lelah berlebihan dan performa yang menurun, maka waspada overtraining syndrome! (Google Gemini)
Ketika kamu yang rajin dan urtin latihan, tiba-tiba mengalami rasa lelah berlebihan dan performa yang menurun, maka waspada overtraining syndrome! (Google Gemini)

Pejuangkantoran.com – Tak jarang kejadian, ketika orang sedang berolah raga, tiba-tiba seperti tak punya daya dan performa juga buruk. Padahal orang tersebut rutin berolah raga dengan teratur.

Bahkan juga bisa diikuti oleh nyeri otot yang berkepanjangan, detak jantung istirahat yang meningkat dari biasanya, serta kelelahan ekstrem yang tidak membaik walaupun sudah beristirahat.

Ini adalah gejala fisik overtraining syndrome. Overtraining Syndrome (OTS) adalah kondisi fisik dan mental yang terjadi ketika seseorang berlatih terlalu keras atau terlalu sering tanpa cukup waktu untuk pemulihan, sehingga tubuh tidak bisa pulih dengan optimal.

Sindroma ini jangan diabaikan karena bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik, performa olahraga, hingga kondisi mental.

Overtraining syndrome ternyata tak hanya mengalami gejala fisik, namun juga psikis. Jadi ketika kamu yang rutin berolah raga namun tiba-tiba menjadi mudah marah, kehilangan motivasi berolah raga, depresi ringan hingga sedang, serta sulit berkonsentrasi, maka waspadalah!

Overtraining syndrome ini dipicu oleh ketidakseimbangan antara latihan, istirahat, dan nutrisi. Jadi bukan hanya karena latihannya sendiri.

Beberapa faktor pemicunya adalah:

  • Latihan terlalu intens tanpa variasi atau hari pemulihan;
  • Tidak cukup tidur;
  • Asupan kalori tidak mencukupi;
  • Stres mental di luar latihan (pekerjaan, keluarga, dan sebagainya).

 Baca Juga: Aktif Olah Raga dan Gaya Hidup Sehat Tapi Berisiko Kena Penyakit Jantung? Ini Faktor-faktornya!

Juara Dunia Pun Bisa Kena

Sejumlah kasus overtraining syndrome terjadi pada atlet dunia, bahkan juara dunia sekalipun. Misal, kasus yang terjadi pada Paula Radclife, juara dunia marathon.

Menjelang Olimpiade Athena tahun 2004, Paula Radclife (yang memgang rekor dunia marathon saat itu) mengalami penurunan performa yang drastis dan bahkan hingga mengalami cedera.

Diketahui kemudian, Paula telah menjalani latihan intensif tanpa periode pemulihan yang cukup. Plus, tekanan kompetisi Olimpiade yang menambah beban psikologisya.

Akibatnya, muncul gejala berat, gangguan sistem pencernaan, hingga stres mental.

Seorang atlet pelari elite dunia pun bisa terkena OTS ketika ia mengabaikan sinyal tubuh. Mendengarkan tubuh adlaah salah satu pencegahan terjadinya OTS. Selain itu perlu perencanaan jadwal latihan yang benar, berikan jeda pemulihan antara sesi latihan berat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X