PejuangKantoran.com - Tidak mudah memproduksi film yang mengangkat tema sensitif. Namun, begitu membaca sinopsis Almost Is Never Enough, produser dan pemilik MVP Pictures Raam Punjabi langsung memberi lampu hijau untuk memproduksi kisah tersebut ke dalam film.
Almost Is Never Enough, yang diangkat dari novel karya Sefryana Khairil, mengambil tema surrogate mother (ibu pengganti). Ketika seorang perempuan tidak mampu mengandung dengan cara alami, teknologi kedokteran memungkinkan untuk menanamkan embrio suami-istri ke rahim perempuan lain. Di beberapa negara, praktik ini masih dianggap ilegal.
“Setelah membaca artikel tentang surrogate mother ini, saya bilang ke editor saya kalau saya ingin menulis novel tentang tema ini. Editor saya setuju tapi dengan persyaratan, lokasi cerita tidak di Indonesia karena topiknya masih sensitif di sini.
Baca Juga: Berperan sebagai Surrogate Mother di Dear Jo, Ini Kata Anggika Bolsterli Soal Jadi Ibu Pengganti
“Akhirnya, setelah melakukan riset dengan bantuan teman di Amerika, cerita di novel ini pun mengambil lokasi di Amerika,” terang Sefryana Khairil, saat peluncuran trailer dan poster Dear Jo: Almost Is Never Enough di kantor MVP Pictures, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (10/7/2023).
Saat dialihwahanakan menjadi film, judulnya menjadi Dear Jo: Almost Is Never Enough (Dear Jo). Sutradara Monty Tiwa yang dipercaya untuk menggarap film ini merekrut Jourdy Pranata, Anggika Bolsterli, dan Salshabilla Adriani sebagai pemeran utamanya.
Dear Jo menceritakan pasangan suami istri Joshua (Jourdy Pranata) dan Maura (Salshabilla Adriani) yang tinggal di Baku, Azerbaijan, dan sangat berharap kehadiran seorang anak.
Maura memiliki sahabat bernama Ella (Anggika Bolsterli), ibu tunggal dengan satu anak perempuan yang juga tinggal di Baku. Ella setuju menjadi ibu pengganti bagi pasangan Joshua dan Maura.
Namun saat Ella hamil, Maura meninggal dunia karena kecelakaan. Joshua merasa hancur, dan dari situ mulailah terjadi berbagai konflik.
Awalnya, Monty Tiwa ingin melakukan syuting Dear Jo: Almost Is Never Enough di Amerika Serikat. Namun karena terbentur pandemi, film yang rencananya akan diproduksi akhir 2019 itu pun tertunda.
Baca Juga: Siap-Siap Diteror Hantu Primbon dan Susuk di Film Horor yang Akan Dirilis Agustus Ini!
Dengan ketidakpastian global tersebut, sutradara film Hidayah dan Gita Cinta dari SMA itu mengaku sempat pasrah syuting dilakukan di Indonesia. Risikonya, harus membangun set dan menggunakan green screen.
“Tahun 2019 awal, kita sebenarnya sudah menyelesaikan skenarionya. Tetapi ketika akan siap-siap syuting, ada covid. Cukup sedih karena kita tertunda dalam waktu yang tidak menentu.
“Saya cukup surprise karena ketika akhirnya pak Raam menyebutkan, ‘It’s a go!’. Begitu pandemi sedikit mereda, saya langsung diminta untuk segera syuting,” terang Monty Tiwa.
Namun, keluarnya izin dari Raam Punjabi ternyata belum cukup melancarkan proses produksi. Kondisi sempat tidak memungkinkan karena belum ada negara yang membuka pintu untuk negara lain yang berniat melakukan syuting.
Artikel Terkait
Aduh, Wangi Sabun Mandi Kamu Ternyata Bisa Bikin Kamu Digigit Nyamuk!
25 Contoh Gaya Hidup Frugal Living yang Mudah Kamu Coba Agar Bisa Menabung! (Bagian 2)
3 Fakta Series “Cinta Dua Masa” yang Bikin Seru Ditonton (Selain Faktor Dikta dan Prilly)
Tarif Uji Coba LRT Jabodebek Hanya Rp1, Berapa Tarif LRT yang Resmi saat Sudah Beroperasi?
7 Tanda Pelamar Memakai AI untuk Menyusun Resume, Ini yang Perlu Kamu Lakukan sebagai Rekruter
Apa Itu Revenge Porn? Istilah “Menyesatkan” dari Kasus Alwi Husein Maolana Si Penyebar Video Asusila