PejuangKantoran.com - Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih masih bisa disaksikan di beberapa jaringan Cinema XXI dan CGV. Namun Bayu Skak sudah siap merilis film barunya, Foufo.
Film yang digarap Bayu bersama penulis naskah Achmad Faishol ini mengangkat stereotip negatif masyarakat Madura yang lekat dengan karakter sebagai pengumpul dan pedagang besi tua.
Lucunya, di film ini besi tua atau besi bekas itu berasal dari bangkai UFO yang ditemukan Muslim (Tretan Muslim), pedagang barang rongsok di Kampung Rombeng.
Baca Juga: Demi Menampilkan Madura yang Otentik di Film 'Foufo', Bayu Skak Gelar Casting Besar-Besaran
Nah, film ini menggandeng studio animasi lokal asal Surabaya, Hompimpa Animworks, untuk mendesain karakter alien beserta pesawat UFO-nya. Yang butuh pengerjaan dengan tingkat kesulitan cukup tinggi adalah pengerjaan animasi untuk sosok alien karena menggabungkan teknik syuting langsung dengan animasi (live-action animation).
“Ketika ada ide seperti ini, orang pertama yang kami sounding ya mereka (Hompimpa Animworks) dan mereka menyanggupi. Ada 120 animator yang terlibat, yang tidak hanya mengerjakan modelling saja.
"Ada yang menggerakkan hingga nge-rigging agar nantinya ketika semua selesai, sebelum dirender, itu diteliti satu-satu. Ada yang lebih tidak? Atau ada yang harus dihaluskan lagi atau tidak?” terang Bayu Skak, saat konferensi pers di Plaza Senayan XXI, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Bayu merasa nyaman kerja sama dengan Hompimpa Animworks, karena sebelumnya sudah pernah kolab bareng. Portfolio studio animasi yang berdiri tahun 2012 itu juga sudah cukup banyak sehingga mampu memberi masukan untuk desain alien.
“Sebagai studio animasi, mereka sangat riset. Apalagi, mereka juga mengerjakan animasi yang disuplai ke luar negeri. Salah satunya, mereka mengerjakan animasi Pororo.
"Desain alien di sini dari rekomendasi mereka. Mereka beritahu kami kalau yang lancip-lancip sudah tidak zaman. Harus yang curve karena anak-anak sekarang menyukai pola seperti ini,” tambah sutradara kelahiran Malang, 32 tahun lalu ini.
Baca Juga: Vino G. Bastian Tegaskan Aktor Down Syndrome di Film 'Tanah Runtuh' Bukan Obyek Komersil
Sebelum mendapat rekomendasi tersebut, Bayu sempat kepikiran untuk membuat model kayak alien di film CJ7 milik Stephen Chow di mana alien-nya dibuat full CGI (computer-generated imagery).
Namun, proses pengerjaannya butuh waktu cukup lama, 1,5 tahun. Sebagai jalan keluarnya, penggarapan animasi pun hanya pada bagian kepala saja, yang ternyata sangat mempersingkat waktu pengerjaan.
Proses pengambilan gambar bagian tubuh alien dilakukan bersamaan dengan syuting film yang berlangsung selama sebulan. Bambang Ceper dipercaya untuk memerankan alien yang harus menggunakan kostum dan helm sebagai kepala, di mana helm tersebut diisi dengan animasi.
“Secara teknis, Bambang menggunakan helm besar yang kita kasih titik-titik yang jadi mata dan segala macamnya. Itu jadi patokan buat pihak lawan main agar mereka tahu ke mana harus melihat, sehingga tidak sampai salah arah. Selesai syuting, proses animasi dan CGI dimulai dan diselesaikan selama tujuh bulan,” ujar Bayu.