PejuangKantoran.com - Mental fatigue atau kelelahan mental menjadi salah satu alasan merasa capek sepanjang hari meski tidak melakukan aktivitas fisik berat. Beban pekerjaan, terlalu lama scrolling media sosial, multitasking, notifikasi yang terus muncul, hingga paparan informasi tanpa henti dapat membuat otak bekerja terus-menerus. Akibatnya, tubuh terasa lelah, sulit fokus, mudah terdistraksi, dan produktivitas ikut menurun.
Baca Juga: Capek Mental Bukan Kurang Circle, Tapi Kamu Kurang Third Place. Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Baca Juga: Frugal Living vs FOMO: Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital
Apa Itu Mental Fatigue?
Mental fatigue adalah kondisi ketika seseorang merasa lelah secara kognitif setelah terus menggunakan kemampuan mentalnya dalam waktu lama. Berbeda dengan kelelahan fisik setelah olahraga atau bekerja secara fisik, mental fatigue lebih berkaitan dengan kemampuan otak untuk berkonsentrasi, mengambil keputusan, memproses informasi, dan mempertahankan perhatian.
Pada Gen Z yang sehari-hari sangat dekat dengan teknologi, sumber kelelahan ini bisa datang dari berbagai arah. Pagi dimulai dengan mengecek notifikasi, dilanjutkan bekerja atau kuliah, sesekali membuka media sosial, membalas pesan, mengikuti meeting, kemudian kembali scrolling sebelum tidur. Sekilas tidak terlihat melelahkan, tetapi otak sebenarnya terus menerima dan memproses berbagai stimulus.
Multitasking Bisa Membuat Otak Cepat Lelah
Salah satu kebiasaan yang sering dianggap produktif adalah multitasking. Membalas chat sambil bekerja, berpindah dari laptop ke ponsel, atau mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus memang terasa efisien.
Namun, terlalu sering berpindah fokus dapat membuat otak harus terus melakukan penyesuaian. Akibatnya, pekerjaan bisa terasa lebih berat dan konsentrasi lebih cepat habis.
Bagi pekerja muda, kondisi ini semakin terasa ketika satu hari dipenuhi meeting, email, chat pekerjaan, deadline, dan berbagai aplikasi yang terus memberikan notifikasi.
Scrolling Juga Bisa Menguras Energi Mental
Istilah “cuma lima menit scrolling” sering berakhir menjadi puluhan menit. Media sosial menghadirkan aliran konten yang sangat cepat dan beragam. Dalam waktu singkat, seseorang bisa berpindah dari berita, video hiburan, konten olahraga, isu pekerjaan, hingga kehidupan orang lain.
Masalahnya bukan sekadar durasi penggunaan ponsel, tetapi juga banyaknya informasi yang masuk. Otak terus dituntut memperhatikan, menilai, membandingkan, dan berpindah konteks.
Karena itu, scrolling tanpa batas tidak selalu terasa seperti istirahat. Secara mental, aktivitas tersebut tetap memberikan stimulasi.