PejuangKantoran.com - Paris Hilton dikenal sebagai pewaris kerajaan bisnis grup Hotel Hilton. Di awal tahun 2000-an, namanya lebih populer sebagai sosialita New York dan bintang reality show.
Acara realita yang dibintangi bersama sahabatnya, Nicole Richie, The Simple Life, melejitkan nama keduanya. Sayang, di masa itu beredar pula video “panasnya” bersama mantan kekasihnya, Rick Salomon. Julukan bad girl pun menempel pada diri Paris Hilton.
Namun kini di usia 44 tahun, Paris Hilton sudah menjelma sebagai entrepreneur. Berbekal pengalamannya membintangi berbagai reality show, ia membangun 11:11 Media, perusahaan hiburan yang diimpikannya akan menjadi “the next Disney”. Perusahaan ini mengombinasikan passion-nya di bidang kecantikan, fashion, musik, dan filantropi.
Baca Juga: Lowongan Kerja Senior Software Engineer-Backend di GrabKios (PT Solusi Transportasi Indonesia)
“Selama ini, saya merasa orang punya pandangan tertentu tentang saya, yang tidak merefleksikan diri saya yang sebenarnya,” ujar Paris, usai tampil dalam American Express Leadership Academy.
“Di awal karier, saya menampilkan karakter yang saya ciptakan untuk The Simple Life. Tapi di balik layar, saya fokus membangun merek saya sendiri,” ujar Paris, yang kini ibu dari dua anak balita.
Otentisitas dan kreativitas
Sekarang ini, Paris mengatakan bahwa ia sudah berhasil "mengambil alih kembali narasinya" melalui pencapaian kariernya. Ia meluncurkan perusahaannya pada tahun 2021 dan menggunakan platform-nya untuk advokasi anak-anak guna mengantisipasi industri remaja yang semakin tidak sehat.
“Saya belajar bahwa cara terbaik untuk bangkit setelah selalu diremehkan adalah dengan menunjukkan hasil kerja kita, dan tampil secara otentik,” tuturnya.
Baca Juga: Channel Youtube dengan 1 Juta Subscriber Naik 50 Persen Tiap Tahun, Tahun 2025 Ada 3000 Channel!
Paris, yang pernah mempekerjakan Kim Kardashian sebagai asisten pribadinya, mengatakan bahwa otentisitas adalah sifat utama yang dimiliki orang-orang yang ia pilih untuk bekerja sama, selain semangat dan kreativitas.
"Selain itu, kebaikan hati tak terbantahkan buat saya," tambahnya. "Kebaikan hati menunjukkan karakter sejati seseorang. Saya ingin merek saya dan semua orang yang mewakilinya memimpin dengan kebaikan hati."
Otentisitas pula yang akan memandu kegiatan filantropinya. Paris bilang, setiap tujuan yang ia perjuangkan berasal dari pengalaman hidupnya. Tentunya, ia tidak akan pernah memperjuangkan sesuatu yang tidak ia yakini sepenuh hati.
Menanamkan filantropi dalam pekerjaan
Artikel Terkait
Supaya Kamu Lebih Tenang Saat Stres, Ikuti Panduan Latihan Membangun Emotional Resilience Ini!
Siapa Mau Jadi Anak Buah Menkeu Purbaya? Kemenkeu Buka Lowongan untuk 2.100 Orang Tahun Ini!
Lagi Jadi Tren, Ini Keuntungan dan Kerugian Bekerja sebagai Private Staff Para Miliarder
Employee Value Preposition Penting Bagi Perusahaan. Siapa Saja yang Bertanggung Jawab atas Hal Ini di Perusahaan?
Ini yang Kamu Cari: Paket Internet yang Nggak Bakal Hangus, Kuota Bulanannya Bisa Diakumulasi!
Cara Memulai Pekerjaan Sampingan sebagai Virtual Assistant untuk Penghasilan Tambahan
Di JAFF, Penonton Bisa Menikmati Film-Film Indonesia Terbaru sebelum Tayang Resmi Di Bioskop