PejuangKantoran.com - Per 12 November 2023, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta melaporkan kasus cacar monyet atau monkey pox di Jakarta mengalami kenaikan berjumlah 34 orang. Namun, satu diantaranya sudah dinyatakan sembuh.
Memangnya seberapa menularkan penyakit ini? Menurut situs Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, virus cacar monyet dapat menular ketika bersentuhan dengan virus dari hewan yang terinfeksi, orang yang terinfeksi, atau bahan yang terkontaminasi virus.
Cacar monyet sendiri merupakan penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox.
Baca Juga: Ini Perkiraan Besaran Upah Minimum Provinsi Setelah Mengalami Kenaikan pada 2024
Penularan dari manusia ke manusia, dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada orang yang terinfeksi atau dengan bahan yang telah menyentuh cairan atau luka tubuh.
Selain itu, seseorang juga bisa tertular jika melakukan kontak langsung dengan luka infeksi, koreng, atau cairan tubuh penderita, bahkan melalui droplet pernapasan saat melakukan kontak dengan penderita secara berkepanjangan.
Gejala terkena penyakit cacar monyet
Seperti namanya yang sama, cacar monyet memiliki gejala yang hampir serupa dengan penyakit cacar air, tetapi lebih ringan.
Gejala cacar monyet umumnya muncul setelah 5 – 21 hari terkena paparan virus yang ditandai dengan kondisi di bawah ini.
• Demam (menjadi gejala umum yang muncul di awal penyakit)
• Sakit kepala
• Nyeri otot
• Nyeri punggung
• Kelelahan
• Menggigil
• Pembengkakan kelenjar getah bening
Dalam 1 – 3 hari setelah mengalami gejala awal, penderita biasanya akan mengalami ruam di beberapa bagian tubuh, seperti wajah, tangan, kaki, mulut, area genital, bahkan bisa sampai ke area mata.
Lalu, ruam tersebut akan berkembang menjadi lesi atau kerusakan jaringan pada kulit dengan beberapa tahapan, yaitu:
Baca Juga: JP Morgan Chase & Co Buka Lowongan Corporate & Investment Bank Associate-Global Investment Banking
• Makula, yaitu saat lesi berubah warna, tetapi masih berbentuk datar.
• Papula, saat lesi sedikit terangkat.
• Vesikel, ketika lesi akan berkembang dan membentuk benjolan dengan cairan bening di dalamnya.
• Pustula, yaitu saat cairan di dalam lesi akan berubah menjadi warna kekuningan.
• Kering dan mengelupas.
Gejala ini biasanya terjadi selama 2 – 4 minggu, setelah itu kondisi akan membaik dan menghilang dengan sendirinya.
Artikel Terkait
Awas Jangan Kebiasaan Rebahan Terus, Bisa Bikin Osteoporosis
Rangkaian Produk Skincare Vegan yang Bikin Kamu Bisa Merawat Kulit Tanpa Rasa Bersalah
3 Bagian yang Sering Dilupakan Saat Mandi, Mulai Perhatikan Yuk!
Pengobatan dengan Sel Punca atau Stem Cell, AS Pelopor, Korea Kembangkan
Cuaca Masih Panas Nih, Hati-hati Dehidrasi Ya!
Saran Ahli Agar Olahraga Tetap Menyehatkan Meski Cuaca Panas Ekstrem
Kelak Ada Teknologi Stem Cell atau Sel Punca dari Urine atau Air Kencing atau Air Seni untuk Indonesia