PejuangKantoran.com - Jumlah kasus kanker di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di tengah kompleksitas penanganan penyakit ini, kebutuhan akan alat deteksi kanker di Indonesia yang lebih cepat dan akurat menjadi semakin krusial.
Diagnosa dini bukan hanya memperbesar peluang kesembuhan, tetapi juga memungkinkan pasien menjalani terapi yang lebih tepat sejak awal.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, RS Gading Pluit di Jakarta Utara menghadirkan inovasi besar dengan meresmikan penggunaan PET/CT Digital Omni Legend, teknologi pemindaian kanker generasi terbaru yang untuk pertama kalinya beroperasi di Indonesia.
Alat ini menawarkan tingkat presisi tinggi dalam mendeteksi lesi metabolik, bahkan pada ukuran yang sangat kecil.
“Penanganan kanker membutuhkan waktu yang sangat berharga. Karena itu, diagnosis yang cepat dan akurat sangat menentukan,” ujar dr. Tjondro Setiawan, Sp.Rad, Subsp. RN-PM(K), Kepala Instalasi Radiologi sekaligus Konsultan Radiologi Nuklir dan Pencitraan Molekuler di RS Gading Pluit.
“Teknologi PET/CT Digital Omni Legend ini memungkinkan kami mendeteksi lesi dengan ukuran hanya 1,4 milimeter. Alat ini juga dilengkapi fitur Motion Correction berbasis AI, sehingga gambar tetap tajam walau pasien dalam keadaan bernapas normal.
"Ini sangat membantu untuk mendapatkan hasil yang benar-benar akurat.”
Menurut dr. Tjondro, teknologi ini bukan hanya membawa akurasi, tetapi juga efisiensi dalam waktu dan sumber daya.
“Dengan dukungan Cyclotron yang kami miliki di RS Gading Pluit, kami bisa memproduksi radionuklida sendiri.
"Artinya, kami tidak lagi tergantung pada pihak luar untuk bahan pemeriksaan, sehingga prosesnya bisa jauh lebih cepat dan fleksibel,” jelasnya.
Baca Juga: 2050, Jumlah Kasus Kanker di Dunia Naik hingga 77 Persen, 4 Hal Jadi Pemicu
Ia menegaskan bahwa kehadiran alat ini merupakan lompatan besar dalam dunia radiologi dan onkologi Indonesia.
“Sejak tahun 2008 kami sudah menjadi pionir dalam pengembangan teknologi hybrid imaging. Tapi kini kami membawa sistem pencitraan hybrid paling mutakhir se-Asia Tenggara langsung ke masyarakat Indonesia,” katanya bangga.
“Sekitar 80 persen memang untuk kanker, tapi sisanya bisa digunakan untuk kasus neurologi seperti epilepsi, demensia, serta penyakit lain seperti gangguan jantung, demam yang tidak diketahui penyebabnya, sampai perencanaan terapi radiasi,” tambahnya.
Artikel Terkait
Makan Lebih Banyak Buah Sitrus Bisa Membantu Meningkatkan Mood, Kata Ahli Gizi
Ini Buah-buahan yang Penting untuk Jaga Suasana Hatimu, Biar Gak Gampang Bad Mood!
Garam dan Merica serta Gelas Kosong Ternyata Bisa Jadi Penilaian Saat Wawancara Kerja, Seperti Ini Caranya!
Karena Pembelian Juga Didasarkan Emosi dan Persepsi, Ini 9 Konsep Neuromarketing yang Harus Diketahui
5 Strategi Pemimpin untuk Mencegah Burnout pada Karyawan, Jadilah Role Model yang Baik
Memanfaatkan Ekosstem Digital, Medsos dan Marketplace, Pengusaha Kue Ini Semakin Berkembang
Anya Geraldine Merasa Punya Banyak Kesamaan dengan Naya di Mendadak Dangdut