- Ankle sprain mikro;
- Plantar fasciitis;
- Tendinitis Achilles;
- IT band syndrome.
3. Grip outsole menurun
Apa yang terjadi
- Karet outsole menipis, terutama di area kontak utama.
Risiko
- Mudah tergelincir di:
- Aspal basah;
- Jalan licin setelah hujan.
- Risiko jatuh meningkat, terutama saat:
- Cornering;
- Downhill;
- Sprint finish (race day).
- Efisiensi lari menurun
Apa yang terjadi
- Midsole “mati” tidak lagi mengembalikan energi (energy return rendah).
Risiko
- Pengeluaran energi lebih besar untuk pace yang sama.
- Kaki lebih cepat lelah.
Baca Juga: 7 Cara Merawat Sepatu Lari yang Basah Karena Hujan Agar Sepatumu Awet
Implikasi
- Easy run: terasa lebih berat dari biasanya.
- Daily training: kualitas latihan turun.
- Race day: pace drop lebih cepat, terutama di kilometer akhir.
- Risiko spesifik pada Race Day (paling berbahaya)
Menggunakan sepatu yang sudah aus saat lomba adalah kombinasi risiko tertinggi, karena:
- Intensitas maksimal;
- Durasi panjang;
- Tidak ada ruang adaptasi tubuh.
Risiko tambahan:
- Kram lebih cepat;
- Blister karena upper sudah berubah bentuk;
- Cedera akut (Achilles strain, calf strain).
- Masalah pasca-lari (delayed onset)
Sering diabaikan:
- Nyeri muncul 24–72 jam setelah lari, bukan saat lari.
- Pelari sering salah menyimpulkan penyebabnya sebagai “kurang pemanasan”, padahal akar masalahnya sepatu.
***
Artikel Terkait
Rekomendasi Ahli 10 Sepatu Lari Terbaik untuk Tahun 2025. Jangan Salah Pilih!
Strategi Konsumsi Energy Gel Seperti Ini yang Harus Kamu Lakukan Saat Mengikuti Full Marathon
Padel Vs Lari, Mana yang Lebih Berat? Pahami Penjelasan Berikut Ini Supaya Tidak Salah!
Dilarang Mengenakan Sepatu Tenis Apalagi Sepatu Lari untuk Bermain Padel. Berikut Alasannya!
Salah Sepatu Lari Sebabkan Cedera Shin Splint yang Jika Dibiarkan Bisa Berbahaya Banget!
4 Fase Tahapan Pemulihan Cedera Shin Splint yang Bisa Kamu Lakukan Akibat Salah Sepatu Lari